Assalamualaikum wr wb
Huuufh, akhirnya saya bisa menulis kisah saya, setelah badai kuhadapi, lautan kudaki, dan gunung kuseberangi...
Sebentar, ada yang rasanya kurang tepat. Apa ya? *menengok paragraf di atas.
Ah sudahlah. Biar saja, ga dosa kok.
Baiklah, pada kesempatan yang berbahagia bagi Anda yang sedang berbahagia kali ini, saya ingin berbagi cerita mengenai desaku yang kucinta, pujaan hatiku.
Jreeeng... Jreeeeng...
Saya bertempat tinggal di kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Alhamdulillah lokasi desa saya cukup jauh dari lokasi bencana longsor yang menjadi berita nasional pada bulan Desember 2014 lalu.
Pada kesempatan pulang kampung kali ini sebenarnya saya berniat menjadi relawan membantu desa dan korban bencana tersebut. Namun sekarang lokasi tersebut ditutup untuk umum, hingga niat saya itu tidak kesampaian.
Nah, sekarang cerita tentang desa saya, Desa Kaliurip. Desa ini merupakan salah satu penghasil salak pondoh terbesar di Banjarnegara. Setiap melangkah keluar rumah, langsung terlihat hamparan pohon salak sejauh mata memandang. Kalau mau makan salak, tidak usah jauh-jauh. Di samping rumah sudah tersedia. Tapi yang diseduh #eh.
Hasil salak yang buanyaaak itu membuat perekonomian warga tergantung pada buah ini. Di Desa Kaliurip terdapat beberapa sentra pengepakan salak yang siap dikirim ke berbagai daerah di Jawa dan Sumatra. Industri ini juga menyerap banyak tenaga kerja, termasuk anak2 muda. Sehingga bukan hal yang ajaib banyak anak2 muda di sini yang sudah memiliki penghasilan sendiri. Sebagian bahkan mampu membeli sepeda motor dengan hasil cucuran keringat mereka, tentu saja yang sudah dikonversi menjadi uang.
Dampaknya, usaha yang menyerap tenaga kerja anak muda di desa saya ini, telah menyerap pula kawan-kawan bermain saya. Jadilah desa saya terasa sepi. Tapi memang desa ini sudah biasa sepi. Pagi warganya bekerja, malam hari beristirahat. Itulah agenda rutin di sini. Saya akhirnya jadi susah mencari waktu luang untuk berkumpul dengan teman lama.
Alhamdulillahirobbil'alamin, tak semua kawan saya sudah terserap sebagai penggiat industri perkebunan salak. Sebagian kawan tetap istiqomah mengikuti kodrat sebagai pelajar dan giat memakan bangku sekolah.
Ada satu momen istimewa dalam libur pulang kampung kali ini, yaitu saat saya diajak manggung. Bukan sebagai personil boyband, apalagi pelaku stand up comedy, melainkan sebagai anggota grup rebana. Begini-begini saya dulu adalah salah satu penggawa grup rebana TPQ (Taman Pendidikan Quran) setempat. Mumpung saya ada di desa, saya diajak kembali menggelar show dalam peringatan Maulid Nabi SAW. Pentas kali ini begitu menantang, lokasinya sangat ...wauw. Butuh waktu perjalanan satu setengah jam untuk mencapainya, dengan menembus hutan lebat gelap gulita tiada tara.
Jarak tempuh yang bisa dibilang cukup jauh ini menjadikan suasana perjalanan agak gimana... gitu. Apalagi ini perjalanan malam. Suhu begitu dingin. Saat kami melangkah, bukit batu di belakang desa kami begitu tinggi menjulang diterpa cahaya keperakan sang bulan.
Bagaimana kisah selanjutnya? Kita akan tahu juga nantinya, semoga segera, ya. Doakan saja. *berdoa khusyuk sambil mengisi ulang daya baterai ponsel.
-Kabul Hidayatulloh- #MakeItHappen2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar