Selasa, 13 Januari 2015

Ukiran-ukiran Baru

Brrruuummm ...

Motor tua ini dengan kencang melintasi aspal mulus berkelok di kaki Gunung Sumbing. Roda-roda dengan ruji berkarat ini terus berputar, semakin kencang ketika harus melintasi tanjakan. Sesekali kendaraan kawan bersorai, menandakan bahwa peradaban masih ada hingga di wilayah berselimut ini. Ia melintasi desa dengan aspal yang remuk, hingga pada akhirnya, seseorang tersenyum ketika tiba di lokasi tersebut.

"CANDI SELOGRIVO" Begitulah yang tertulis di gapura tersebut. Sebuah bagunan mungil terletak di sampingnya: tempat kita membeli tiket. Seusai membayar HTM sebesar Rp. 3000, tanpa pikir panjang saya bergegas masuk ke dalam area wisata candi. "Dik, arep mbarengi rak? Dhalane aduh lho! // Dik, mau ke atas bareng nggak? Jalannya jauh lho!" Tawaran menarik agar saya cepat tiba di tempat. Sayang saya menolaknya hanya demi alasan menikmati pemandangan. Seperti yang dijanjikan pada tiket masuk.

Saya mulai mendaki menuju candi dengan berjalan kaki. Sesembari memotreti keindahan alam pegunungan yang terbentang. Pandangan saya berputar 360° sambil mengaitkan apa yang saya lihat dengan gejala geologis yang saya tahu. Tak sadar sinyal 3G tablet tak tertangkap. Di sepanjang jalan, rimbunan pepohonan terlihat dengan jelas. Warna hijaunya ikut lenyap bersama hijaunya areal persawahan.

Ketika melangkah menyusuri jalanan setapak, saya berpapasan dengan ibu-ibu yang membawa hasil panen sayuran, bapak-bapak yang siap menyemai sawah, juga muda-mudi desa yang mengolah kebun. Pertanian di sini memang didominasi oleh persawahan, namun ada juga cabai, terong, kentang, juga singkong. Sesekali motor matik melintas yang dipaksakan untuk membawa gelondongan kayu, entah legal atau tidak.

Tak berapa lama kemudian, tibalah saya di bagian akhir pendakian. Trek ini ditandai dengan adanya gapura. Sekitar 50 meter ke depan, terdapat beberapa bangunan yang telah rusak. Dibiarkan begitu saja. Barulah saya tiba di Candi Selogrivo.

Memasuki kawasan candi, saya diminta untuk mengisi daftar hadir. Sama dengan di Yogya. Saat saya datang, kawasan candi sepi. Hanya ada tukang kebun candi, pasangan kekasih, dan dua pemudi SMA lokal. Tanpa banyak basa-basi, saya melihat dan memotret kondisi candi. Alhasil, saya kecewa.

Candi Selogrivo ini berada dalam pengelolaan Badan Pelestarian Cagar dan Budaya Jawa Tengah. Candi yang terletak di desa Kembangkuning ini terletak di wilayah perbukitan Gn. Sumbing dan menjadi salah satu objek wisata lokal di Kec. Windusari, Magelang. Dilihat dari bentuk bangunannya, seperti atap candi yang mirip Candi Borobudur, saya memasukkannyanke dalam candi Buddha. Tidak ada relief di dinding luarnya.

Satu hal yang sangat disayangkan adalah kondisi candi yang sudah SANGAT MEMPERIHATINKAN. Kunjungan saya kali ini memang berdasarkan hasil pencarian foto di internet yang diambil 2 tahun lalu. Sayangnya itu sangat kontras dengan yang kini ada di hadapan saya.

Dua buah sabuk kuning terikat di tubuh candi hingga 'melilit' candi tersebut. Bila diperhatikan lebih dekat, jawaban atas mengapa sabuk itu dipasang terjawab: belasan-mungkin-puluhan grafiti dari tangan-tangan bodoh tak bertanggungjawab terukir di sana. Bukan ukiran orang zaman dulu. Tak hanya itu, patung yang menempel di dinding candi pun rusak. Bagian tubuh dari arca tersebut ada yang hilang kepalanya, perutnya, bahkan kakiknya. Mirisnya, saya melihat papan peringatan dan para pengunjung sebagian besar tidak memperdulikan peringatan tersebut. Bahkan konon katanya candi ini biasa dijadikan lokasi pacaran.

Tak mau berlama ditelan rasa kecewa, saya buru-buru kembali turun. Toh saya dikejar oleh awan kelabu di atas sana. Melintasi kebun cabai yang tengah mahal, saya tertarik untuk menjepretnya. Tau-taunya ...

"Wei. Adja dijipuki wei!" Kaget diteriakin orang lokal, saya berlagak interlokal. "Pak, gambar saya bagus nih?" "Kanda apa kowe kuwi?" "Bapak mau saya foto?" "Cah edan!"

Lolos deh! =)

"Sudah saatnya kita sebagai bangsa berbudaya menghormati peninggalan nenek moyang kita. Dan tidak ada pihak manapun yang berhak mengusiknya."

© 2014 Johan FJR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar