Tampilkan postingan dengan label #kampungku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #kampungku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2015

Bersepeda di "Taman Kota"


Barangkali banyak siswa SMART yang memiliki rencana-rencana liburan yang menyenangkan ketika pulang kampung, semisal mengunjungi candi-candi seperti Johan FJR, atau datang ke tempat-tempat karaoke seperti Renald Maulana Fadli, atau apalah.

Tapi jangan tanya aku.

Meski, baiklah, apa salahnya aku juga menceritakan apa kegiatanku di kampung halaman?

Ini desaku dilihat dari Taman Kota Soreang
Jadi, rumahku terletak di sebuah desa, sebut saja Desa Cingcin (memang itu namanya). Desa ini berlokasi di Kota (kecil) Soreang, Kabupaten Bandung. Desaku bisa dibilang masih pelosok, meski tidak pelosok-pelosok amat. Setidaknya ikatan kekeluargaan antarwarga di desa ini sangat kuat sehingga aku sendiri bahkan hampir menganggap semua tetanggaku adalah keluargaku sendiri.

Ke mana aja lu liburan?” adalah petanyaan paling sering kuterima dari teman-temanku entah melalui obrolan di jejaring sosial atau lewat sms. Yah, kalau sudah begitu aku lebih senang menjawab “Di rumah aja, lu?” meski tidak sepenuhnya benar.

Jadi, pada hari Minggu pagi tanggal 4 Januari, aku bersama kelima adikku, ayahku dan satu anak keponakan yang masih duduk di bangku kelas 5 SD pergi ke Taman Kota Soreang. Untuk mencapai tempat itu tidaklah memerlukan waktu lama dan usaha yang sulit. Kami hanya perlu menyeberangi hamparan sawah sejauh kira-kira 100 meter yang memisahkan taman itu dengan desaku. *Jadi, bisa dibayangkan betapa pelosoknya “taman kota” itu?

Bisa kaulihat sendiri, rumput di sini tergenang
karena hujan dan kurangnya perawatan
Meski sudah dibangun sejak 2013 lalu, taman ini ternyata belum mendapat perawatan yang baik. Banyak rerumputan yang tergenang, pohon-pohon yang harusnya tumbuh juga banyak yang lebih dulu ditebang oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Pos pengawasan di taman ini juga sering kosong tidak ada yang jaga, bahkan hampir tidak terawat.

Jadi, ya, aku tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa kami main ke taman kota sih. Meski tetaplah menyenangkan menghabiskan waktu dengan adik-adikku di tempat ini. Dan juga, untuk kali pertama setelah bertahun-tahun aku tidak naik sepeda karena sepedaku dulu rusak, kali ini aku mencoba lagi menggunakannya. Dan kurasa cukup berhasil.

Di sini aku juga berburu foto, meski masih amatir, dengan adik-adikku sebagai korbannya (haha). Kau bisa melihat foto-foto itu.

Memang sih, tidak banyak tempat yang kukunjungi selama pulang kampung ini (dan juga kurasa pulang kampung sebelum-sebelumnya). Namun setidaknya aku bisa menghabiskan waktu dengan adik-adikku yang masih lucu-lucu sebelum nanti mereka makin tua dan dewasa dan tidak bisa diajak bercanda lagi.

Aku juga ingat, di rumah, aku memberi satu pelajaran kecil tentang menata rambut kepada adik laki-lakiku yang duduk di bangku kelas 4 SD. Memang tidak cukup elit sih, tapi tetap saja ini penting bagiku. Sebagai kakak laki-laki tertua, aku sering gemas melihat cara merapikan rambut adikku yang terkesan kekanak-kanakan (oke, dia memang masih anak-anak). Akhirnya dia harus mendapat ceramah kecil dariku mengenai pentingnya berpenampilan keren terutama dalam merapikan rambut. Jadilah dia kuajari menyisir yang baik, meski sayangnya hingga aku pulang kembali ke SMART dia belum bisa mempraktekkan materiku dengan baik. Yah, kuharap sekarang dia sudah bisa berpenampilan rapi dengan gaya rambut yang baru. Semoga saja....

Sebenarnya masih banyak cerita-ceritaku yang cukup unik untuk kubagi, meski masih tetap di dalam rumah. Sayangnya bagianku sudah habis kali ini, tapi aku tetap akan menyempatkan waktu menulis lagi bila admin membolehkannya (hehe) dan aku juga punya waktu untuk menceritakannya.
Aku yang sedang berusaha mengendalikan sepedaku

Ini foto aku bersama adik-adikku, anak keponakanku, serta teman adikku
Jatuh bangun
Asyiknya bersepeda....

Rabu, 21 Januari 2015

Liburan Bersama Nenek (Bagian 2)

Senja hari barulah nenek mengajak untuk menyusuri sepanjang Jalan Malioboro dengan andhong. Nenek memang tidak menjelaskan perbedaan andhong, delman, maupun kereta lain yang ditarik oleh kuda. Nenek hanya menunjukkan, kemudian ikut menawar harga untuk mengendarai kereta ini.
Harga yang disepakati dari Stasiun Tugu sampai Alun-Alun Kidul adalah Rp 70.000,00. Entah sesuai, maupun belum sesuai, harga itu sudah cukup murah daripada penawaran awal, Rp 100.000,00. Mungkin harga itu tidak begitu mahal kalau melihat kelangkaan andhong pada sore itu.

Sepanjang jalan nenek menunjukkan sekaligus menjelaskan hal unik sepanjang Jalan Malioboro, misalnya gedung DPR, pepohonan yang hilang sepanjang jalan, toko batik yang berjajar, pasar, museum serta gedung gubernur. Sebelum titik nol, nenek meminta untuk mengarahkan pandangan di sisi sebelah kiri jalan. Saat itu terdapat miniatur gajah dengan aksesoris warna di kulitnya. Memang di trotoar sebelah timur perempatan jalan menuju ke Alun-alun Utara selalu dipajang instalasi sebagai benda seni untuk publik.

Ibu ini benar-benar orang sini, ya?” komentar pak kusir keheranan atas kelancaran narasi nenek.
Lo, dari tadi dikira bohong, ya?” Spontan, kami semua protes.
Mungkin pak kusir khawatir

Nenek kembali beraksi ketika andhong kami sudah menyusui alun-alun.
Kemarin di sini ada sekaten.” Beliau menunjuk bekas-bekas di lapangan. “Tapi, sekarang sudah selesai?”
Kenapa?”Saya heran.
Entah .... Dengar-dengar ada yang tidak berkenan.”
Wah, Ibu juga tahu itu?” Pak kusir heran lagi.
Wah, ini mana pemandunya, mana wisatawannya?”
Lha, saya bukan orang sini, e.” Jawab pak kusir malu-malu.
Panjenengan tiyang pundi?” Kemudian, nenek dan pak kusir mengobrol.

Setelah alun-alun andhong memasuki kampung di lingkungan keraton. Jalan yang dilewati dapat disebut jalan utama di perkampungan itu. Oleh karena itu, rumah-rumah di sepanjang jalan kampung itu masih dapat disebut besar. Semakin masuk ke perkampungan pasti jalan dan rumah-rumah semakin kecil dan letaknya tidak beraturan. Demikian pula jalanannya, lama kelamaan mengecil serupa gang senggol.

Saya melihat sebagian besar rumah-rumah tersebut dijadikan cafe atau warung kopi. Sampai di pertigaan menuju Pasar Ngasem, nenek menunjukan arah menuju kafe yang paling elit dan mahal di wilayah keraton. Pada perjalanan berangkat, saya tidak melihat penunjuk arahnya. Sebaliknya, saya dapat melihat dengan jelas spanduk penunjuk arah kafe tersebut.

Sampai di Alun-alun selatan saya baru sadar, rupanya nenek ingin mengajak cucunya naik sepeda mobil (atau mobil sepeda?). Pernah membaca berita di internet. Saya pun hanya melihat fotonya. Baru saat itulah saya melihat bentuk sepeda mobil.

Sebagai mobil, bentuknya tak beda dengan mobil, namun hanya rangka saja. Sebagai sepeda, sepeda ini tidak berlantai dan dilengkapi rangka sebagai pijakan serta tempat pedal sepeda. Dilengkapi lampu di setiap sisi bagian tubuhnya, sepeda ini tidak memiliki pintu dan jendela. Lampu-lampu itu menyala jika dikayuh. Lebih meriah lagi, musik terdengar kencang dari kendaraan ini.

Para keponakan harus menunggu sampai hari gelap untuk dapat menyewa sepeda itu. Namun, mereka tidak resah menunggu sebab mereka menghabiskan waktu dengan perang gelembung sabun. Jika capek, mereka melihat sekitar sebentar. Di sekitar para penjual tak mau kalah, mereka membuat hujan gelembung balon dengan alat yang lebih besar sebagai pembuat gelembung. Sampai akhirnya permainan itu berhenti karena cairan sabun telah habis dan si tengah ingin arum manis.

Saat alam mulai gelap para keponakan segera memilih sepeda mobil yang ingin mereka kendarai. Beberapa kali berganti pilihan, semua mengambil posisi. Si sulung memegang kendali kemudi, yang lain mengambil posisi di samping dan di belakang.

Saya pikir akan aman, damai, dan tenteram. Sambil mengayuh, saya dapat menikmati warna ungu senja. Saya pun akan lebih dapat menikmati anggun beringin kembar.

Kenyataan tidak semudah itu. Kami merasa sangat geli sehingga kesulitan untuk mengayuh. Satu sama lain saling mengomentari, lalu tertawa geli. Dalam keadaan tertawa, kayuhan terasa semakin berat, sampai-sampai si tengah mengayuh ke belakang. Namun, kami semua tertawa gembira. Ketika beristirahat di depan bekas kandang gajah di pojok Alun-alun Selatan, nenek masih saja membahas sehingga kami terbahak kembali.

Untuk pulang, nenek memilih becak yang tepat. Baru saya tahu, sekarang sudah ada becak dengan mesin motor. Seperti sopir kendaraan lain, sopir becak melengkapi diri dengan SIM. Sepanjang jalan si tengah tertawa kegirangan. Tak terasa deru motor becak membawa kami kembali ke rumah nenek, membuat liburan bersama nenek semakin menggembirakan.

-Retno Winarsi Handayani- #Terkabul2015

Selasa, 20 Januari 2015

Liburan Bersama Nenek (Bagian 1)

Libur telah tiba
Libur telah tiba
Hatiku gembira

Liburan memang menggembirakan. Manggung bersama kelompok rebana di kampung sendiri sampai jalan-jalan ke candi, pasti menggembirakan. Demikian pula bertemu dan di-cipika-cipiki nenek juga menggembirakan. Walaupun menginap jauh dari rumah sendiri, walaupun diganggu saudara tiga hari tiga malam oleh sepupu, liburan bersama nenek semestinya unik dan menggembirakan.

Mungkin itulah yang dialami ketiga keponakan saya. Tinggal jauh di luar kota membuat para keponakan jarang bertemu dengan nenek. Ketika mereka bertemu sang nenek, ekspresi gembira tidak dapat mereka sembunyikan.

Pagi itu para keponakan berlarian dengan riang di taman sekitar Masjid Syuhada. Mereka dijanjikan untuk bertemu sang nenek di sana. Kebetulan, kegembiraan mereka tidak mengganggu jadwal kunjungan nenek ke masjid tersebut.

Sambil mengawasi keriangan para keponakan, saya melihat ke sekeliling. Saya melihat bangunan masjid yang tidak sekadar bangunan masjid. Saya amati di bawah bangunan utama terdapat sekolah PAUD dan kantor pengelola Masjid Syuhada. Saya dapati pula di sekitar bangunan masjid yang didominasi cat hijau tersebut terdapat taman bermain serta lapangan kecil untuk sepak bola.

Masid Syuhada yang berada di tengah kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kotabaru, memang sudah dikenal tidak hanya sebagai tempat ibadah. Masjid ini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat akad nikah. Jadwal akad di masjid ini sungguh padat. Konon jadwal ini disusun kurang lebih enam bulan sebelum pelaksanaan akad.

Selain itu, Masjid Syuhada mengelola sekolah. Awalnya hanya sekolah Taman Kanak-Kanak. Karena masyarakat percaya dengan pola pendidikan sekolah ini, tingkat sekolah itu berkembang. Saat ini Masjid Syuhada sudah menyelenggarakan pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Atas.

Pada jam sekolah lingkungan itu terasa ramai. Sekelompok siswa SD Syuhada asyik bermain sepak bola. Di antara keriuhan mereka, terdengar lagu riang anak taman kanak-kanak. Di jalan depan lalu lalang mobil orang tua siswa menjemput selain pengendara yang memanfaatkan jalan. Di sekeliling pintu gerbang masjid bertebaran penjual. Minuman dingin, roti, tahu bakso, pempek, somay, kentang goreng, sampai mainan anak-anak, jilbab, sampai pakaian, semua tinggal pilih.

Di sekitar kesibukan di sekitar masjid dan beberapa gerombolan orang tua yang menunggui siswa, beberapa pengusaha menawarkan dagangan.
Berapa? Lima ribu?” Tanya nenek.
Enggak, Eyang. Dua puluh lima ribu.” Seorang pemudi tersipu di sebelah pemuda yang menenteng plastik besar.
Pantes, ayam goreng kok, lima ribuan, ya.” Nenek menimpali supaya suasana meriah.
Uang diterima, saya melirik kotak plastik transparan di tangan keponakan, “Ayam Goreng Kost-Kosan.” Selain nama produk dan merek, di kotak tersebut ditulis nomor kontak. Saya pikir, mereka mahasiswa kreatif. Ada saja yang memanfaatkan peluang ibu-ibu, orang tua siswa sekolah ini.

Keramaian itu dapat menghiasi keunikan bangunan Masjid Syuhada. Bangunan masjid berbentuk limas yang dilengkapi dengan tangga besar menuju tempat ibadah. Sisi-sisi kayu pada bangunan tampak unik, dari jauh garis-garis coklat itu memberi garis batas pada warna cat hijau bangunan tersebut.



Sayangnya, sejarah Masjid Syuhada tersembunyi. Saya tidak akan menemukan sebuah tugu kecil kalau tidak karena mengawasi keponakan yang berlarian. Tugu itu tidak lebih dari 2 m dari marmer yang berwarna abu-abu. Pada tiga perempat ketinggian tugu ini terdapat kotak hitam kecil yang berukirkan tulisan arti penting Masjid Syuhada pada pertempuran Perang Dunia II.


Tugu peringatan di Masjid Syuhada


Dulu Syuhada belum sebesar ini,” kata Nenek. “Bangunannya masih kecil. Tempat ini dulu jadi tempat pertahanan tentara. Banyak pejuang yang syahid di sekitar masjid ini,” lanjut Nenek. Sayang, dilihat dari bidang ilmu sejarah, keterangan Nenek kurang lengkap. Nenek hanya menggambarkan suasana pertempuran pada saat itu.

Liburan dengan nenek dilanjutkan ke rumah beliau. Berada di antara toko makanan khas dan cendera mata khas Yogyakarta, rumah nenek ramai oleh lalu lalang kendaraan. Lalang, bahkan kemacetan itu memuncak pada tanggal-tanggal libur karena bus-bus besar, bus wisata, berkeliaran di sepanjang jalan sebelah barat di belakang Jalan Malioboro.

Tidak heran, rumah beliau hanya berselang sekitar beberapa rumah dari Toko Bakpia Pathok 75. Makanan ringan yang berisi kacang hijau ini sangat dikenal dan disukai oleh para wisatawan. Walaupun bakpia 75 sudah dihargai paling tinggi, toko ini masih selalu ramai.

Lama tak mengunjungi rumah panjang itu, saya melihat pabrik tegel di sebelah rumah sudah benar-benar tutup. Debu menggumpal di dinding pabrik itu. Padahal, dahulu pabrik ini selalu ramai oleh pekerja yang membuat tegel untuk memang memenuhi kebutuhan lantai bangunan sekitar Yogya. Seiring dengan perkembangan model lantai, tegel tidak laku sehingga kegiatan di pabrik ini berhenti.

Selain nilai sejarah, penutupan itu memang disayangkan. Model-model tegel tersebut unik. Beberapa di antara model itu masih dipasang di depan halaman pabrik yang sekarang dijadikan lapangan parkir gratis.

Saya amati beberapa toko baru muncul di sepanjang jalan ini. Beberapa toko cendera mata, seperti kaos dan sandal tampak menghiasi beberapa toko bakpia yang berjajar di sepanjang jalan. Toko kue modern itu turut menyesaki jalanan tersebut. Kata nenek, toko kue atau roti itu didirikan oleh salah satu finalis acara mencari bakat di salah satu stasiun televisi. Bahkan, roti-roti itu dibuat dan disusun sendiri oleh sang finalis.
Namun, nenek tidak mengajak berbelanja di toko tersebut. Beliau justru mengajak makan siang di salah satu warung bakso di daerah Sido Arum, nama sebuah desa di daerah barat laut Yogya. Setelah menyusuri jalan desa yang berkelok-kelok, beliau memandu sampai dapat menemukan warung yang benar-benar berupa warung yang sederhana bangunan dan perabotnya.

Syukurlah, para keponakan tidak mempermasalahkan tempat. Mereka makan dengan lahab begitu masing-masing semangkok bakso dan mie ayam terhidang di depan mereka. Mereka tidak memedulikan bentuk bakso besar yang dibelah sehingga menyerupai bunga teratai, cantik. Tidak sampai lima belas menit, .... tandas.

(bersambung...)

-Retno Winarsi Handayani- #Terkabul2015

Kamis, 15 Januari 2015

Banjarnegara, Salak dan Rebana

Assalamualaikum wr wb

Huuufh, akhirnya saya bisa menulis kisah saya, setelah badai kuhadapi, lautan kudaki, dan gunung kuseberangi...

Sebentar, ada yang rasanya kurang tepat. Apa ya? *menengok paragraf di atas.
Ah sudahlah. Biar saja, ga dosa kok.

Baiklah, pada kesempatan yang berbahagia bagi Anda yang sedang berbahagia kali ini, saya ingin berbagi cerita mengenai desaku yang kucinta, pujaan hatiku.

Jreeeng... Jreeeeng...

Saya bertempat tinggal di kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Alhamdulillah lokasi desa saya cukup jauh dari lokasi bencana longsor yang menjadi berita nasional pada bulan Desember 2014 lalu.

Pada kesempatan pulang kampung kali ini sebenarnya saya berniat menjadi relawan membantu desa dan korban bencana tersebut. Namun sekarang lokasi tersebut ditutup untuk umum, hingga niat saya itu tidak kesampaian.

Nah, sekarang cerita tentang desa saya, Desa Kaliurip. Desa ini merupakan salah satu penghasil salak pondoh terbesar di Banjarnegara. Setiap melangkah keluar rumah, langsung terlihat hamparan pohon salak sejauh mata memandang. Kalau mau makan salak, tidak usah jauh-jauh. Di samping rumah sudah tersedia. Tapi yang diseduh #eh.

Hasil salak yang buanyaaak itu membuat perekonomian warga tergantung pada buah ini. Di Desa Kaliurip terdapat beberapa sentra pengepakan salak yang siap dikirim ke berbagai daerah di Jawa dan Sumatra. Industri ini juga menyerap banyak tenaga kerja, termasuk anak2 muda. Sehingga bukan hal yang ajaib banyak anak2 muda di sini yang sudah memiliki penghasilan sendiri. Sebagian bahkan mampu membeli sepeda motor dengan hasil cucuran keringat mereka, tentu saja yang sudah dikonversi menjadi uang.

Dampaknya, usaha yang menyerap tenaga kerja anak muda di desa saya ini, telah menyerap pula kawan-kawan bermain saya. Jadilah desa saya terasa sepi. Tapi memang desa ini sudah biasa sepi. Pagi warganya bekerja, malam hari beristirahat. Itulah agenda rutin di sini. Saya akhirnya jadi susah mencari waktu luang untuk berkumpul dengan teman lama.

Alhamdulillahirobbil'alamin, tak semua kawan saya sudah terserap sebagai penggiat industri perkebunan salak. Sebagian kawan tetap istiqomah mengikuti kodrat sebagai pelajar dan giat memakan bangku sekolah.

Ada satu momen istimewa dalam libur pulang kampung kali ini, yaitu saat saya diajak manggung. Bukan sebagai personil boyband, apalagi pelaku stand up comedy, melainkan sebagai anggota grup rebana. Begini-begini saya dulu adalah salah satu penggawa grup rebana TPQ (Taman Pendidikan Quran) setempat. Mumpung saya ada di desa, saya diajak kembali menggelar show dalam peringatan Maulid Nabi SAW. Pentas kali ini begitu menantang, lokasinya sangat ...wauw. Butuh waktu perjalanan satu setengah jam untuk mencapainya, dengan menembus hutan lebat gelap gulita tiada tara.

Jarak tempuh yang bisa dibilang cukup jauh ini menjadikan suasana perjalanan agak gimana... gitu. Apalagi ini perjalanan malam. Suhu begitu dingin. Saat kami melangkah, bukit batu di belakang desa kami begitu tinggi menjulang diterpa cahaya keperakan sang bulan.

Bagaimana kisah selanjutnya? Kita akan tahu juga nantinya, semoga segera, ya. Doakan saja. *berdoa khusyuk sambil mengisi ulang daya baterai ponsel.

-Kabul Hidayatulloh- #MakeItHappen2015.

Senin, 05 Januari 2015

Hari yang Cerah!

Assalamu'alaikum... Selamat malam...!
Apa kabar kamu di tempat tinggalmu minggu pertama Januari 2015 ini. Masih setia terbasahkan oleh hujan kah? Wajar saja memang, saat ini kita kan ada di musim penghujan. Tapi setelah berhari-hari dirundung gelap dan curah hujan, hari ini ada yang istimewa. Iya, hari ini di tempat tinggalku, Jakarta, cerah! Alhamdulillah :)

Walau prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG menyebutkan hujan berpeluang turun di Jabodetabek hari ini, namun hingga tengah hari tadi cuaca cerah ceria. Ada awan memang, tapi tidak mengurangi silaunya pancaran matahari.

Kalau dilihat dari sisi ini, Kanal Banjir Timur cukup keren dan romantis, ya? Alhamdulillah sedang tidak ada gerumbulan sampah yang mengapung dan membuat suasana bak Sungai Seine ini buyar :-)

Tuh, lihat di atas, foto dari Jembatan RS Duren Sawit yang melintang di atas Kanal Banjir Timur, Jakarta. Terlihat cerahnya, ya? Sesiang ini aku berjalan di jembatan ini menikmati cerahnya hari (sambil menenteng kantong belanjaan, hehe...). 

Sekitar lima belas meter di depanku ada tiga anak berseragam SMP, berjalan menuju sekolah. Sebagai informasi, di daerah tempat tinggalku masih ada beberapa sekolah yang menyelenggarakan KBM dari siang hingga sore hari. Ada yang karena memang kekurangan lokal kelas, atau ada yang gedung sekolahnya dalam perbaikan sehingga untuk sementara menumpang di sekolah lain.

Tiga siswa SMP berjalan menuju sekolah. Mana? Tuuh... di tengah bidang foto, di ujung jembatan. Maaf objek fotonya terlalu jauh, sebab tengah hari yang panas ini membuat mereka tidak mau menungguku mendekat agar dapat mengambil foto mereka dengan lebih elegan :)

Berbeda sekali dengan para siswa SMART EI yang masih di pekan pertama dari tiga pekan masa libur raya tahunan, sebagian besar siswa sekolah di Jakarta sudah mulai kembali berlaga di sekolah. Suka atau tidak suka; hujan atau panas; puas liburan ataukah belum; semester kedua sudah secara resmi dimulai. 

Aku terus melangkah (menenteng kantong belanjaan tadi) menuju rumah. Di tempat lain aku kembali melihat sekelompok lain siswa SMP yang tatanan rambutnya masih klimis, pakaian putih-birunya pun belum kusut. Artinya juga mereka ini baru berangkat dari rumah menuju sekolah. Saat itu mereka sedang... ah, mari kita cek langsung di gambar berikut.

Apakah objek foto ini adalah induk ayam dan anaknya?
Eh, maaf. Ternyata butuh kaca pembesar untuk mencari tahu gerangan manakah objek foto yang kumaksudkan. Ini pelajaran buatku sih. 
Pertama: jangan sok jago mengambil gambar di luar ruang saat matahari sedang beredar di atas kepala. Silau, maaan... dan bikin jendela bidik kamu terlihat gelap. Alhasil, seperti pada foto di atas, induk ayam dan anaknya yang tadi tidak kuperhatikan, jadi lumayan eksis bersama sepasang kotak sampah. 
Kedua, kalau mau jadi fotografer profesional, kamu harus mau menggerakkan kakimu lebih aktif. Jangan takut mendekat kepada objek foto agar mereka bisa masuk sebagai fokus dalam fotomu. Kalau tidak, fotomu dikira ingin memamerkan penutup saluran drainase di kawasan Pondok Bambu.
Ketiga, kalau tanganmu sedang repot bawa kantong belanjaan, tidak usah repot pengin foto anak sekolah yang lagi nongrong siang-siang deh. Pakai kamera hape segala lagi. Sebaiknya bagikan isi kantong tersebut pada mereka, setelahnya niscaya mereka akan bersedia difoto dengan gaya sampul majalah Sport Illustrated (maksudnya???).

Ah ya, mari balik ke hari yang cerah bersama teman-teman SMP kita yang sedang nongkrong itu. Lagi-lagi aku bersyukur tidak ada siswa SMART EI yang punya kesempatan nongkrong dulu di pekarangan perak-petak kontrakan belakang sekolah sebelum harus hadir di sekolah. Laah, sekolah dan asrama SMART EI tidak diselingi oleh kontrakan apa pun, kok. Jadi niat teguh siswa SMART untuk menuntut ilmu setiap hari sepanjang hayat bisa tetap terjaga. Baik di hari hujan maupun cerah.

Dan InsyaAllah bertahan selamanya. Amiin.

-vera- #makeithappen2015