Tampilkan postingan dengan label #perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #perjalanan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Oktober 2015

"Jurnalistik Itu Menyenangkan" (Menuju Medali Emas LKJS 2015, Bagian 2)

Cerita sebelumnya: Tim jurnalistik S'Detik SMP SMART Ekselensia Indonesia menjadi finalis Lomba Karya Jurnalistik Siswa Nasional (LKJS) 2015. Dengan dukungan berbagai pihak, mereka menuju Surakarta, Jawa Tengah, lokasi final kegiatan ini.

Tiga puluh sembilan tim jurnalistik SMP se-Indonesia menjadi finalis LKJS yang diadakan untuk kedua kalinya tahun ini. Selain SMP SMART EI, finalis lain dari Jawa Barat adalah SMP Al Maksum, Sumedang. Dari Bandung, Senin pagi (5/10) kami menaiki kereta eksekutif Lodaya, yang tiba di Surakarta terlambat dari jadwal kedatangan.

Kami langsung bergegas mendaftarkan diri di Hotel Sunan Solo, yang disiapkan panitia. Malam itu juga kami bertemu peserta lain dari seluruh Indonesia saat acara pembukaan. Kami jadi tahu bahwa satu tim finalis ternyata batal datang ke Surakarta ini, entah karena apa. Mungkin karena tidak diizinkan meninggalkan UTS yang sedang berlangsung. Mungkin, lhooo...

Malam itu, (dan malam2 berikutnya) melalui telepon genggam asrama yang dipinjamkan kepada kami, pembimbing kami sempat mengirim pesan tertulis menanyakan kabar kedatangan dan pembukaan. Sayang pesan itu tak bisa kami jawab, karena telepon yang kami bawa tidak ada pulsanya, hehe...

Kami segera beristirahat karena lelah. Hari berikutnya, Selasa (6/10) adalah jadwal presentasi buletin yang telah kami kirimkan. Presentasi ini dilakukan di dalam ruang tertutup di hadapan dewan juri. Satu per satu tim dipanggil sesuai giliran yang sudah ditetapkan. Tahu tidak, kami dapat giliran ke-36 dari 38 finalis. Tentu lama kami menunggu, rasa grogi dan tak sabar menyelimuti kami selama menanti.

Akhirnya giliran kami tiba! Sebelumnya diperkirakan presentasi akan berlangsung 10 menit, dilanjutkan pertanyaan dari dewan juri. Namun, tampaknya para juri sudah cukup lelah dan bosan saat giliran kami tiba, sehingga presentasi kami berjalan cukup singkat.

Usai presentasi, kami diberitahu bahwa besok setiap tim harus memproduksi sebuah buletin mini berdasar kegiatan yang akan dilaksanakan. Hal ini memang sudah disampaikan pembimbing kami saat pembekalan, mengingat kami telah diminta menyiapkan komputer jinjing dan kamera sebelum berangkat.

Hari ketiga, Rabu (7/10), para peserta diajak mengunjungi beberapa lokasi di kota Surakarta, di antaranya gedung Monumen Pers Nasional dan sebuah kampung sentra kerajinan tradisional. Kami mengamati berbagai hal menarik, melakukan wawancara, dan mengambil foto di tempat yang kami kunjungi. Sesampai kembali di hotel, kami diberi waktu hingga jam tertentu di malam hari untuk segera menuangkan pengalaman kami dalam buletin mini.

Banyak tim yang belum berhasil menyelesaikan tugas ini pada malam itu, demikian juga tim S'Detik. Kami benar2 merasakan beratnya kehidupan jurnalis yang harus bekerja keras di bawah tekanan tenggat demi bisa menyelesaikan berita yang bermutu bagi masyarakat. Kami juga ingat pengalaman kami di sekolah sebelumnya, saat bersama teman2 ditunggui hingga malam hari oleh pembimbing kami untuk menyelesaikan majalah dinding Duabelasdetik hingga bisa dipasang untuk dibaca warga SMART EI. Tak heran jika perasan kami bertiga malam itu sangat emosional dan serasa diliputi "tegangan tinggi". Karena itu, betapa lega hati kami saat panitia mengumumkan bahwa karya yang belum selesai bisa dilanjutkan esok paginya setelah sarapan.

Seperti tim lain, pagi hari Kamis (8/10) itu, kami begitu bersemangat menyelesaikan karya buletin empat halaman kami. Judul laporan utama kami adalah "Jurnalis Berbudaya" Alhamdulillah, sebelum batas waktu pukul 11.30 pagi itu, kami berhasil mengumpulkannya kepada panitia.

Tiba saat kami untuk berusaha tenang menunggu hasil penilaian dewan juri atas karya-karya kami. Saat itu kami sudah berkenalan dengan teman-teman dari beberapa tim lain. Ada yang berasal dari Sumatera, atau Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman menjalankan kegiatan jurnalistik di sekolah masing-masing, juga bertukar karya.

Malam itu semua peserta kembali berkumpul di ballroom hotel untuk acara pengumuman pemenang dan penutupan acara. Akan ada 15 tim yang akan menerima medali emas, perak dan perunggu sebagai pemenang LKJS 2015. Satu per satu pemenang dipanggil mulai dari juara harapan. Harapan kami mulai melambung.

Jantung kami makin berdebar saat makin banyak pemenang medali dipanggil maju ke panggung menerima hadiah. Sudah empat belas tim maju, dan perasaan kami mulai tak menentu, saat akhirnya nama buletin penerima gelar juara 1 utama disebutkan oleh pembawa acara. "SDeik dari SMP SMART Ekselensia Indonesia, Bogor."

Dengan perasaan setengah tak percaya, kami naik ke atas panggung, diiringi tepuk tangan pengunjung ruang luas itu. Iya, rupanya nama buletin "S'Detik" kami dibaca berbeda oleh panitia. Tidak apa-apa, yang penting kami berhasil! Tentu kami begitu gembira dan bahagia. Sebagai juara 1 utama, kami juga mendapat predikat peserta terbaik dalam kategori tulisan opini, tata letak dan fotografi. Kami menerima medali emas, piala dan uang pembinaan 15 juta rupiah (sebelum dipotong pajak).

Kami pun teringat semua jerih payah di klub jurnalistik selama satu tahun ini. Semua pelatihan ekskul dan praktik jurnalistik di lapangan bersama teman-teman dan kakak senior; bimbingan dan doa orang tua dan guru-guru kami, ternyata berbuah manis. Tak lupa dukungan dan kepercayaan para donatur yang tidak pernah kami temui, yang memungkinkan kami belajar di sekolah hebat, SMART Ekselensia Indonesia.

Akhirnya kami menuju kamar tidur dengan senyum terulas di bibir. Kami masih sempat memanfaatkan jaringan wi-fi hotel untuk menyebarkan kabar gembira ini melalui akun media sosial kami. Walau sudah lewat tengah malam, Syahrizal juga masih sempat "chatting" dgn pembimbing kami di Jakarta mengabarkan keberhasilan dan rencana kepulangan ke Bogor esok harinya. Padahal, kalau bisa, kami masih ingin berkeliling dulu menjelajah kota Solo atau Surakarta, kali ini tanpa beban karena tugas mewakili klub jurnalistik telah sukses kami tunaikan. Sayang di Bogor sana kami telah dirindukan oleh guru-guru kami bersama dengan soal-soal UTS :D

Jumat pagi (9/10), kami telah selesai berkemas, dan segera menuju Stasiun Solo Balapan, menaiki kereta Argo Lawu menuju Jakarta. Kereta bergerak sesuai jadwal, membawa kami meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. Benar, seperti tulisan opini yang dibuat oleh Putra pada SDetik edisi 6, kegiatan jurnalistik itu menyenangkan!

Mohon kembali doa dan dukungan agar karya klub jurnalistik S'Detik bisa berlaga kembali pada final LKJS 2016...

-Nashrul Azmi, Putra Ramadhan, Syahrizal Rachim- #Terkabul2015

Rabu, 21 Januari 2015

Liburan Bersama Nenek (Bagian 2)

Senja hari barulah nenek mengajak untuk menyusuri sepanjang Jalan Malioboro dengan andhong. Nenek memang tidak menjelaskan perbedaan andhong, delman, maupun kereta lain yang ditarik oleh kuda. Nenek hanya menunjukkan, kemudian ikut menawar harga untuk mengendarai kereta ini.
Harga yang disepakati dari Stasiun Tugu sampai Alun-Alun Kidul adalah Rp 70.000,00. Entah sesuai, maupun belum sesuai, harga itu sudah cukup murah daripada penawaran awal, Rp 100.000,00. Mungkin harga itu tidak begitu mahal kalau melihat kelangkaan andhong pada sore itu.

Sepanjang jalan nenek menunjukkan sekaligus menjelaskan hal unik sepanjang Jalan Malioboro, misalnya gedung DPR, pepohonan yang hilang sepanjang jalan, toko batik yang berjajar, pasar, museum serta gedung gubernur. Sebelum titik nol, nenek meminta untuk mengarahkan pandangan di sisi sebelah kiri jalan. Saat itu terdapat miniatur gajah dengan aksesoris warna di kulitnya. Memang di trotoar sebelah timur perempatan jalan menuju ke Alun-alun Utara selalu dipajang instalasi sebagai benda seni untuk publik.

Ibu ini benar-benar orang sini, ya?” komentar pak kusir keheranan atas kelancaran narasi nenek.
Lo, dari tadi dikira bohong, ya?” Spontan, kami semua protes.
Mungkin pak kusir khawatir

Nenek kembali beraksi ketika andhong kami sudah menyusui alun-alun.
Kemarin di sini ada sekaten.” Beliau menunjuk bekas-bekas di lapangan. “Tapi, sekarang sudah selesai?”
Kenapa?”Saya heran.
Entah .... Dengar-dengar ada yang tidak berkenan.”
Wah, Ibu juga tahu itu?” Pak kusir heran lagi.
Wah, ini mana pemandunya, mana wisatawannya?”
Lha, saya bukan orang sini, e.” Jawab pak kusir malu-malu.
Panjenengan tiyang pundi?” Kemudian, nenek dan pak kusir mengobrol.

Setelah alun-alun andhong memasuki kampung di lingkungan keraton. Jalan yang dilewati dapat disebut jalan utama di perkampungan itu. Oleh karena itu, rumah-rumah di sepanjang jalan kampung itu masih dapat disebut besar. Semakin masuk ke perkampungan pasti jalan dan rumah-rumah semakin kecil dan letaknya tidak beraturan. Demikian pula jalanannya, lama kelamaan mengecil serupa gang senggol.

Saya melihat sebagian besar rumah-rumah tersebut dijadikan cafe atau warung kopi. Sampai di pertigaan menuju Pasar Ngasem, nenek menunjukan arah menuju kafe yang paling elit dan mahal di wilayah keraton. Pada perjalanan berangkat, saya tidak melihat penunjuk arahnya. Sebaliknya, saya dapat melihat dengan jelas spanduk penunjuk arah kafe tersebut.

Sampai di Alun-alun selatan saya baru sadar, rupanya nenek ingin mengajak cucunya naik sepeda mobil (atau mobil sepeda?). Pernah membaca berita di internet. Saya pun hanya melihat fotonya. Baru saat itulah saya melihat bentuk sepeda mobil.

Sebagai mobil, bentuknya tak beda dengan mobil, namun hanya rangka saja. Sebagai sepeda, sepeda ini tidak berlantai dan dilengkapi rangka sebagai pijakan serta tempat pedal sepeda. Dilengkapi lampu di setiap sisi bagian tubuhnya, sepeda ini tidak memiliki pintu dan jendela. Lampu-lampu itu menyala jika dikayuh. Lebih meriah lagi, musik terdengar kencang dari kendaraan ini.

Para keponakan harus menunggu sampai hari gelap untuk dapat menyewa sepeda itu. Namun, mereka tidak resah menunggu sebab mereka menghabiskan waktu dengan perang gelembung sabun. Jika capek, mereka melihat sekitar sebentar. Di sekitar para penjual tak mau kalah, mereka membuat hujan gelembung balon dengan alat yang lebih besar sebagai pembuat gelembung. Sampai akhirnya permainan itu berhenti karena cairan sabun telah habis dan si tengah ingin arum manis.

Saat alam mulai gelap para keponakan segera memilih sepeda mobil yang ingin mereka kendarai. Beberapa kali berganti pilihan, semua mengambil posisi. Si sulung memegang kendali kemudi, yang lain mengambil posisi di samping dan di belakang.

Saya pikir akan aman, damai, dan tenteram. Sambil mengayuh, saya dapat menikmati warna ungu senja. Saya pun akan lebih dapat menikmati anggun beringin kembar.

Kenyataan tidak semudah itu. Kami merasa sangat geli sehingga kesulitan untuk mengayuh. Satu sama lain saling mengomentari, lalu tertawa geli. Dalam keadaan tertawa, kayuhan terasa semakin berat, sampai-sampai si tengah mengayuh ke belakang. Namun, kami semua tertawa gembira. Ketika beristirahat di depan bekas kandang gajah di pojok Alun-alun Selatan, nenek masih saja membahas sehingga kami terbahak kembali.

Untuk pulang, nenek memilih becak yang tepat. Baru saya tahu, sekarang sudah ada becak dengan mesin motor. Seperti sopir kendaraan lain, sopir becak melengkapi diri dengan SIM. Sepanjang jalan si tengah tertawa kegirangan. Tak terasa deru motor becak membawa kami kembali ke rumah nenek, membuat liburan bersama nenek semakin menggembirakan.

-Retno Winarsi Handayani- #Terkabul2015

Selasa, 20 Januari 2015

Liburan Bersama Nenek (Bagian 1)

Libur telah tiba
Libur telah tiba
Hatiku gembira

Liburan memang menggembirakan. Manggung bersama kelompok rebana di kampung sendiri sampai jalan-jalan ke candi, pasti menggembirakan. Demikian pula bertemu dan di-cipika-cipiki nenek juga menggembirakan. Walaupun menginap jauh dari rumah sendiri, walaupun diganggu saudara tiga hari tiga malam oleh sepupu, liburan bersama nenek semestinya unik dan menggembirakan.

Mungkin itulah yang dialami ketiga keponakan saya. Tinggal jauh di luar kota membuat para keponakan jarang bertemu dengan nenek. Ketika mereka bertemu sang nenek, ekspresi gembira tidak dapat mereka sembunyikan.

Pagi itu para keponakan berlarian dengan riang di taman sekitar Masjid Syuhada. Mereka dijanjikan untuk bertemu sang nenek di sana. Kebetulan, kegembiraan mereka tidak mengganggu jadwal kunjungan nenek ke masjid tersebut.

Sambil mengawasi keriangan para keponakan, saya melihat ke sekeliling. Saya melihat bangunan masjid yang tidak sekadar bangunan masjid. Saya amati di bawah bangunan utama terdapat sekolah PAUD dan kantor pengelola Masjid Syuhada. Saya dapati pula di sekitar bangunan masjid yang didominasi cat hijau tersebut terdapat taman bermain serta lapangan kecil untuk sepak bola.

Masid Syuhada yang berada di tengah kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kotabaru, memang sudah dikenal tidak hanya sebagai tempat ibadah. Masjid ini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat akad nikah. Jadwal akad di masjid ini sungguh padat. Konon jadwal ini disusun kurang lebih enam bulan sebelum pelaksanaan akad.

Selain itu, Masjid Syuhada mengelola sekolah. Awalnya hanya sekolah Taman Kanak-Kanak. Karena masyarakat percaya dengan pola pendidikan sekolah ini, tingkat sekolah itu berkembang. Saat ini Masjid Syuhada sudah menyelenggarakan pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Atas.

Pada jam sekolah lingkungan itu terasa ramai. Sekelompok siswa SD Syuhada asyik bermain sepak bola. Di antara keriuhan mereka, terdengar lagu riang anak taman kanak-kanak. Di jalan depan lalu lalang mobil orang tua siswa menjemput selain pengendara yang memanfaatkan jalan. Di sekeliling pintu gerbang masjid bertebaran penjual. Minuman dingin, roti, tahu bakso, pempek, somay, kentang goreng, sampai mainan anak-anak, jilbab, sampai pakaian, semua tinggal pilih.

Di sekitar kesibukan di sekitar masjid dan beberapa gerombolan orang tua yang menunggui siswa, beberapa pengusaha menawarkan dagangan.
Berapa? Lima ribu?” Tanya nenek.
Enggak, Eyang. Dua puluh lima ribu.” Seorang pemudi tersipu di sebelah pemuda yang menenteng plastik besar.
Pantes, ayam goreng kok, lima ribuan, ya.” Nenek menimpali supaya suasana meriah.
Uang diterima, saya melirik kotak plastik transparan di tangan keponakan, “Ayam Goreng Kost-Kosan.” Selain nama produk dan merek, di kotak tersebut ditulis nomor kontak. Saya pikir, mereka mahasiswa kreatif. Ada saja yang memanfaatkan peluang ibu-ibu, orang tua siswa sekolah ini.

Keramaian itu dapat menghiasi keunikan bangunan Masjid Syuhada. Bangunan masjid berbentuk limas yang dilengkapi dengan tangga besar menuju tempat ibadah. Sisi-sisi kayu pada bangunan tampak unik, dari jauh garis-garis coklat itu memberi garis batas pada warna cat hijau bangunan tersebut.



Sayangnya, sejarah Masjid Syuhada tersembunyi. Saya tidak akan menemukan sebuah tugu kecil kalau tidak karena mengawasi keponakan yang berlarian. Tugu itu tidak lebih dari 2 m dari marmer yang berwarna abu-abu. Pada tiga perempat ketinggian tugu ini terdapat kotak hitam kecil yang berukirkan tulisan arti penting Masjid Syuhada pada pertempuran Perang Dunia II.


Tugu peringatan di Masjid Syuhada


Dulu Syuhada belum sebesar ini,” kata Nenek. “Bangunannya masih kecil. Tempat ini dulu jadi tempat pertahanan tentara. Banyak pejuang yang syahid di sekitar masjid ini,” lanjut Nenek. Sayang, dilihat dari bidang ilmu sejarah, keterangan Nenek kurang lengkap. Nenek hanya menggambarkan suasana pertempuran pada saat itu.

Liburan dengan nenek dilanjutkan ke rumah beliau. Berada di antara toko makanan khas dan cendera mata khas Yogyakarta, rumah nenek ramai oleh lalu lalang kendaraan. Lalang, bahkan kemacetan itu memuncak pada tanggal-tanggal libur karena bus-bus besar, bus wisata, berkeliaran di sepanjang jalan sebelah barat di belakang Jalan Malioboro.

Tidak heran, rumah beliau hanya berselang sekitar beberapa rumah dari Toko Bakpia Pathok 75. Makanan ringan yang berisi kacang hijau ini sangat dikenal dan disukai oleh para wisatawan. Walaupun bakpia 75 sudah dihargai paling tinggi, toko ini masih selalu ramai.

Lama tak mengunjungi rumah panjang itu, saya melihat pabrik tegel di sebelah rumah sudah benar-benar tutup. Debu menggumpal di dinding pabrik itu. Padahal, dahulu pabrik ini selalu ramai oleh pekerja yang membuat tegel untuk memang memenuhi kebutuhan lantai bangunan sekitar Yogya. Seiring dengan perkembangan model lantai, tegel tidak laku sehingga kegiatan di pabrik ini berhenti.

Selain nilai sejarah, penutupan itu memang disayangkan. Model-model tegel tersebut unik. Beberapa di antara model itu masih dipasang di depan halaman pabrik yang sekarang dijadikan lapangan parkir gratis.

Saya amati beberapa toko baru muncul di sepanjang jalan ini. Beberapa toko cendera mata, seperti kaos dan sandal tampak menghiasi beberapa toko bakpia yang berjajar di sepanjang jalan. Toko kue modern itu turut menyesaki jalanan tersebut. Kata nenek, toko kue atau roti itu didirikan oleh salah satu finalis acara mencari bakat di salah satu stasiun televisi. Bahkan, roti-roti itu dibuat dan disusun sendiri oleh sang finalis.
Namun, nenek tidak mengajak berbelanja di toko tersebut. Beliau justru mengajak makan siang di salah satu warung bakso di daerah Sido Arum, nama sebuah desa di daerah barat laut Yogya. Setelah menyusuri jalan desa yang berkelok-kelok, beliau memandu sampai dapat menemukan warung yang benar-benar berupa warung yang sederhana bangunan dan perabotnya.

Syukurlah, para keponakan tidak mempermasalahkan tempat. Mereka makan dengan lahab begitu masing-masing semangkok bakso dan mie ayam terhidang di depan mereka. Mereka tidak memedulikan bentuk bakso besar yang dibelah sehingga menyerupai bunga teratai, cantik. Tidak sampai lima belas menit, .... tandas.

(bersambung...)

-Retno Winarsi Handayani- #Terkabul2015

Mistisisme 1001 Candi

Terlalu pagi bagi saya ketika Rein menghentikan kisah dalam mimpi saya. Dalam waktu singkat begitu saya sadar tengah berada di rumah orang, saya bergegas bangun dan melaksanakan shalat shubuh.
Sebenarnya kami bertiga tidak memiliki agenda pasti setelah kemarin Ustadzah Vera pulang meninggalkan kami. Hari ini kami kosong agenda dan tidak punya rencana untuk pergi ke mana. Yang pasti saya diminta pulang ke rumah sebelum sore karena malam ini di alun-alun Kota Magelang ada konser dakwah dagelannya Cak Nun. Entah tertarik atau tidak, saya lebih ingin berkelana ke Punthuk Sethumbu di Majak Singi, Menoreh.

Terlanjur masih ada di Sleman, tepatnya Kalasan, saya ingin menghabiskan waktu dulu di sini. Google Maps kembali dibuka, dengan kemampuan GPS, kami mencari alternatif wisata di sekitar. Ditemukan! Bangunan cagar budaya sejauh 5 kilometer di tenggara rumah Rein yang tidak lain adalah ... kompleks Candi Prambanan.

'Ah, gw dah pernah kesana bro!"
"Itu kan lu Rein, orang lokal sini. Lha, gw kan belum. Lu Ilyas?"
"Gw juga belum."
"Noh, 2-1 kan!"
"Oke, sekarang kita ke sana. Caranya gimana?"
"Gimana kalo lu antar kami nyampe Jln. Solo. Nanti kami naik TransJogja di KR II. Kita ketemuan di gerbang masuk. Lu tetep naik motor aja nyampe Prambanan. Toh polisinya kagak tahu kalo lu nggak punya SIM. Asal nggak ngelanggar aja," dasar (-_-)!
Saya dan Ilyas segera membeli tiket pass Rp. 4000 dan menunggu TransJogja jalur apa saja karena sudah pasti ke Prambanan. Sepuluh menit kemudian bus kuning-ijo itu mengangkut kami.

Sepanjang perjalanan, kami berdua hanya berdiam. Entah mungkin males, atau memang tidak ada topik pembicaraan. Lalu keheningan itu pecah seketika bus TJ ini tiba di bangjo Bogem, Sleman.
Dari kejauhan, saya melihat beberapa 'wanita' dengan pakaian super minim. Ada yang menggunakan beha saja, kacamata, lipstik menor, dan ada juga yang menggunakan rok 1/8 (apaan tuh?). Mereka bergoyang dan berusaha memikat para pengguna jalan.

Semula kami kira mereka itu para PSK. Setelah saya mengenakan kacamata, "Ya ampun! WARIA!"
Tawaan kami disambut dengan tatapan sinis pengguna TJ yang lain. Maklum dong, kami kan bukan orang sini, mana tahu begituan! Kami berganti diam, dan menatap sinis yang lain, cuma kami kalah jumlah.
Kami diam hingga tiba di halte Prambanan. Tanpa pikir panjang, kami langsung menuju sanggar di depan loket sambil mencari Rein, takutnya dia sudah lama menunggu. Tetapi keadaan justru berbalik karena ia belum tiba di Prambanan. Ya sudah, saya buka tablet dulu sambil mempertimbangkan penawaran yang terpampang di pintu loket.

Untuk bisa memasuki komplek Candi Prambanan, setiap pengunjung dewasa dipatok Rp. 30.000, dan anak-anak Rp. 10.000. Lebih untung lagi untuk kunjungan karyawisata yang minimal 20 orang. Apabila trip perjalanan ingin dilanjutkan satu tiket dengan trip ke Candi Ratu Boko di bukit seberang selatan sana, menjadi Rp. 45.000. Itu sudah termasuk angkutan PP Prambanan-Ratu Boko.
Karena masing-masing dari kami terbatas oleh waktu, dan tidak ingin film "Keramat 2" dibuat, akhirnya kami memilih tiket Prambanan saja.Tetapi menurut saya harga tiket masih cukup mahal dibandingkan dengan tiket masuk Borobudur (yang pada Januari 2014 lalu), Rp. 15.000.

Di dalam, objek pertama yang kami temui adalah plakat pengesahan komplek Candi Prambanan oleh Presiden Soekarno pada 1953 silam. Tanpa basa-basi, kami segera untuk mendekati candi utama di komplek percandian ini: Candi Roro Jonggrang.

Candi Roro Jonggrang dibangun sekitar tahun 850 M pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Hindu dan ditujukan untuk pemujaan terhadap trimurti, yakni tiga dewa dalam kepercayaan Hindu; Dewa Brahma, Dewa Wishnu, dan Dewa Siwa. Selain untuk pemujaan, pembangunan Candi Roro Jonggrang juga ditujukan untuk meyaingi wangsa Syailendra atas Candi Borobudur sehingga mengukuhkan almamater wangsa Sanjaya di tanah Jawa.

Pembangunan Candi Roro Jonggrang sendiri dilakukan dengan membuat sedotan Kali Opak yang berada di barat komplek ini. Tujuannya agar erosi yang menggerus bantaran kali tidak membahayakan keberadaan candi, sehingga aliran Kali Opak dibelokkan.

Pada masa kerajaan Mataram Hindu masih menetap di Jawa Tengah Candi Roro Jonggrang ini menjadi pusat peribadatan Hindu di tanah Jawi. Namun ketika Gn. Merapi meletus pada 930 dan membahayakan keberadaan kerajaan, Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur. Sejak saat itu, kondisi candi kian memperihatinkan.

Bertahun-tahun kemudian semenjak candi terkubur oleh material letusan, candi kembali ditemukan oleh warga sekitar. Kendati tidak tahu-menahu mengenai asal-usul candi, siapa pembuatnya, kapan, dan tujuan mengapa dibangun candi ini, maka penduduk lokal mengarang cerita fantasi mengenai Roro Jonggrang yang meminta dibangunkan 1001 candi dalam satu malam.

Pada abad ke-16, terjadi gempa dahsyat yang berdampak pada runtuhnya candi. Sejak saat itu, terjadilah penjarahan atas arca dan batu-batu asli candi hingga abad ke-19. Selain menjadi situs sejarah, Candi Roro Jonggrang dan Kali Opak menjadi batas wilayah antara Kesultanan Yogya dan Kasunanan Surakarta yang sebelumnya merupakan kerajaan Mataram Islam pada 1755.

Semenjak Nusantara berada dalam genggaman kolonialisme Belanda, praktik pemugaran terhadap komplek Candi Prambanan dilaksanakan, tepatnya pada 1930 oleh V.R. Van Romondt. Namun pemugaran hingga kini masih berlangsung untuk memulihkan candi pasca gempa Yogya 2006 lalu.

Tubuh Candi Roro Jonggrang terbagi dalam 3 bagian utama yang menggambarkan pelapisan (kastaisme) makhluk dunia, yakni (dari bawah); Bhurloka (manusia, jin, setan, binatang), Bhurwaloka (orang-orang suci, pendeta, bhiksu), Swarloka (para dewa). Selain Candi Roro Jonggrang, di komplek Candi Prambanan juga terdapat Candi Lumbung, Candi Bubrah, serta Candi Sewu yang sayang pada saat kami berkunjung, proses pemugaran maasih berlangsung.

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati komplek Candi Prambanan, kami berteduh di sebuah halte depan pintu masuk Candi Sewu. Nampaknya hanya Candi Roro Jonggrang saja yang ramai. Di candi yang satu ini bahkan hampir tidak ada kunjungan sama sekali.

Saya membuka tablet dan bingung, entah kenapa sensor layar sentuhnya galat. Bahkan menjadi mirror (sentuh atas, reaksi bawah/berlawanan). Saya pun ceritakan ke Rein dan Ilyas. Berdalih ada kekuatan mistis di sini, saya mana percaya hal begituan. Karena matahari hampir berada di atas kepala, kami segera keluar, makan siang di terminal, dan pulang ke rumah masing-masing.

***

Setibanya saya di rumah, entah kenapa semua kegalatan di tablet itu lenyap (loh?).

+JOHAN FJR

Senin, 19 Januari 2015

Berburu Candi Terselubung di Tanah Sleman (bag. 2)

Candi berikutnya yang kami kunjungi adalah Candi Kedulan. Jaraknya memang semakin jauh dari Selokan Mataram, semakin ke utara di desa Tirtomartani. Kini giliran Ilyas yang mengendarai. Ia ingin membuktikan pada saya kalau dirinya lebih lihai mengendarai dari saya. =p Iya deh, ngaku. Dia lebih lancar ganti gigi. =) Kekurangan saya mengendarai motor pada saat berbelok adalah kurang bisa mengurangi kecepatan, juga memiringkan motor agar lancar di tikungan. Selain itu, ganti gigi saat kecepatan tinggi, juga gagal menghindari kubangan. ^_^



Setelah menikmati santap siang-kesorean, baru kami mendatangi Candi Kedulan. Sama seperti dua candi sebelumnya, Candi Kedulan terkubur material letusan Merapi pada 1006. Candi ini terkubur antara 3-7 meter dengan 13 lapisan yang berbeda. Kemungkinan besar 13 lapisan ini disebabkan oleh periode letusan yang berbeda. Candi ini ditemukan di tengah persawahan oleh seorang penambang pasir pada 1993. Ketika kami berlima mendatangi lokasi candi ini, tengah dilakukan proses penyusunan ulang bangunan candi yang memiliki relief mulut bertaring.
Mengejar matahari terbenam, kami pun segera merapat ke Jln. Solo. Di sana terdapat dua candi yang berdekatan namun berseberangan dengan Jln. Solo. Kami segera mendatangi candi di sisi utara, Candi Sari.


Candi ini berada di dalam area permukiman warga. Walau begitu, sepertinya warga sadar akan vitalnya keberadaan situs ini, terbukti dengan tidak adanya bekas kerusakan di areal candi ini. Berbeda dengan ketiga candi sebelumnya, candi yang satu ini bercorak Buddha. Dibangun pada abad ke 8-9 Masehi oleh kerajaan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dan diperkirakan dulunya merupakan vihara (kuil Buddha) dimana para biksu tinggal serta melaksanakan upacara keagamaan.
Candi Sari ditemukan kembali pada abad pada awal abad ke-20 oleh seorang arkeolog Belanda, A. J. Bernett Kempers, tepatnya oada 1929-1930. Pada saat itu, situs ini dalam keadaan rusak berat. Namun dengan berpedoman pada prasasti yang ada, bentuk candi ini dibangun kembali.
Di dalam Candi Sari, terdapat 3 ruangan. Masing-masing ruangan dipantau oleh CCTV. Berdasarkan bentuk fisik candi, letak pintu, serta jendela, candi ini bertingkat hingga 2-3 lantai. Lantai bawah sebagai tempat belajar dan melaksanakan ritual keagamaan para biksu, dan lantai atas untuk menyimpan benda-benda keagamaan. Sayangnya, beberapa bagian candi ada yang telah berubah, seperti bingkai jendela yang semula batu, kini berganti semen. Kemungkinan kerusakan terjadi pada saat penemuan atau pemugaran.

***


Matahari semakin tenggelam oleh cakrawala. Sebelum masa shalat ashar berakhir, kami menyempatkan shalat dulu di Masjid An-Nurumi. "Itu lho, masjid yang mirip bangunan katedral di Moskow!" ujar Rein. Saya tentu tahu karena saya biasa lewat Jln. Solo, dan masjid dengan atap yang mencolok ini terlihat jelas dari pinggir jalan.
Seusai shalat, kami menyeberangi Jln. Solo dan segera masuk ke jalanan pedesaan. "Soalnya gawat kalau masuk lewat pintu utama candi," ujar Rein sambil menunjuk jalan masuk utama. "Ada kantor polisi di depannya." Saya tersenyum.

***


Walaupun sama-sama terletak dekat dengan Jln. Solo, Candi Kalasan lebih terlihat. Candi ini juga terlihat sewaktu naik Prameks tadi pagi. Candi ini bercorak Buddha, sama dengan Candisari. Merunut pada Prasasti Kalasan, Candi Kalasan dibangun bersamaan dengan Candisari, namun memiliki perbedaan fungsi yakni Candi Kalasan digunakan sebagai pemujaan Dewi Sita. Menurut seorang sejarawan Belanda pada tahun 1928, Van Rumond, Candi Kalasan tidak dibangun tunggal (sendiri), melainkan memiliki beberapa candi kecil penunjang dengan stupa di atasnya.
Candi yang menghadap ke arah timur ini memiliki pintu di semua sisi kecuali barat. Masing-masing pintu ini akan mengantarkan pengunjung ke tiga ruangan yang berbeda. Untuk memasuki ruangan tersebut, pengunjung harus menaiki tangga candi yang telah hancur. Hal paling menakjubkan adalah ruang utama yang memiliki patung Dewi Sita, dimana apabila dibayangkan, betapa hebatnya orang zaman kerajaan dahulu dalam menyusun bebatuan, begitu kompleks, dan indah.



Hari semakin sore, dan corak kuning-kemerahan di angkasa semakin mencolok. Birunya langit semakin memudar, jalanan Sleman kian ramai, saatnya kami kembali ke rumah Rein. Sayang kami harus berpisah dengan Ustadzah Vera yang sore ini juga harus pulang ke Magelang. Kami bertiga dan adik Rein, Rian, segera mandi dan makan malam serta tidur untuk mempersiapkan energi tuk esok hari.

© 2014 Johan FJR - foto2 oleh Ustadzah Vera #MakeItHappen2015

Minggu, 18 Januari 2015

Berburu Candi Terselubung di Tanah Sleman (bag. 1)

Masih pagi ketika saya bangun karena cahaya putih dari luar jendela, Jumat (9/1). Benar saja, saya bangun kesiangan. Ilyas pun masih terlelap dalam mimpinya, dan saya baru sadar, tivi dari tadi malam belum mati. Segera saya ke kamar mandi dan melaksanakan shalat shubuh di jam 6. Kami kembali menata barang bawaan kami, dan segera berangkat menemui Ustadzah Vera dan Kak Melita di depan hotel tempat mereka menginap. Setelah kami bertemu, lekas kami selesaikan perjalanan Surakarta (mereka) menuju Stasiun Solo Balapan.

Masih terlalu awal bagi kami untuk membeli tiket kereta lokal Prambanan Ekspress (Prameks). Kereta yang melayani rute Kutoarjo-Solo Balapan ini menerapkan tarif Rp. 6000/perjalanan Yogya-Surakarta PP. Masih ada waktu satu jam sebelum kereta berangkat, namun Kak Melita sudah siap di kabin kereta. Kak Melita memang mau pulang ke Jakarta dan tidak bisa ikut kami ke Yogya. Kak Melita pun segera on board sambil menanti kereta berangkat.

Bagi Ustadzah Vera, tidak lengkap jalan-jalan ke Surakarta kalau belum mencicipi kulinernya. Maka beliau mengajak kami ke sebuah warung makan di Jln. Hasanudin, Surakarta. Tidak lain tempat tersebut adalah WM. Selat Solo Vien.
Selat merupakan kuliner khas Surakarta yang terdiri dari wortel, timun, buncis, kentang goreng, selada, telur, kecap, serta daging yang disiram dengan kuah semur dan mayones. Terlihat dari komposisinya, kuliner ini merupakan kuliner serapan/adaptasi dari Salad dan menjadi menu santapan konglomerat dahulu.
Di warung makan yang buka dari pagi hingga siang ini, menu Selat tersedia dalam dua varian; Selat Daging Cacah (Rp. 8500), dan Selat Iga (Rp. 10000). Minuman yang tersedia untuk menunda dahaga ada jeruk dan teh, tersedia dingin dan panas.

Kembali lagi ke stasiun, kereta Prameks segera siap di jalur 3. Kami pun segera mencari tempat duduk sesuka kami, karena kereta lokal tidak mengatur tempat duduk. Mau berdiri juga boleh. =)
Segera kereta berangkat. Menurut jadwal, kami akan tiba di Stasiun Tugu jam 10.30 alias satu jam perjalanan. Berbeda dengan commuter line Jakarta, Prameks akan berhenti di beberapa stasiun saja, seperti Purwosari, Klaten, Maguwo, Lempuyangan, dan Tugu.
Rencana kami begitu tiba di Yogya adalah mengunjungi beberapa candi di sekitar Kalasan. Ya, candi-candi tersebut merupakan candi peninggalan Mataram Kuno yang tersebar di beberapa tempat, tak jauh dari rumah Rein. Maka, kami segera menaiki TransJogja jalur 3A dari halte Malioboro I dan turun di halte Jln. Solo K2. Untuk menuju ke rumah Rein, kami harus menaiki motor hingga Purwomartani.

***
Usai shalat Jumat, kami segera berangkat. Tadinya saya dan Ilyas merencanakan untuk bersepeda. Keinginan kami segera disangkal Rein. Terlalu beresiko kehabisan waktu dan capek, karena candi-candi tujuan kami tersebar dan jarak masing-masing candi cukup jauh. Mau tidak mau kami harus naik motor. Wah, Rein bisa ngeboncengin Ustadzah Vera dan adiknya, Rian. Kami (saya dan Ilyas), yang belum memiliki kelihaian dalam bermotor harus segera mempelajari cara mengemudi motor dengan baik. Ajaibnya, saya bisa menguasai motor Jupiter itu dalam 10 menit. =)
Kami segera berangkat, tentu dengan Rein sebagai pemandu jalan. Candi pertama, candi Sambisari. Motor yang saya kendarai sempat lompat gara-gara saya kurang seimbang dalam berganti gigi. Ilyas tersontak dan ngomel-omelin saya. =) Maklum, amatir. Siapa tahu nanti saya jadi pembalap sungguhan. =p Tapi impian itu langsung sirna begitu saya hampir menabrak Ustadzah Vera saat mau parkir. =3



Untuk memasuki Candi Sambisari, pengelola memang tidak mengenakan biaya masuk. Kita hanya diminta untuk mengisi kehadiran di pos penjagaan. Begitu masuk, Candi Sambisari terlihat jauh berbeda dengan candi-candi lainnya. Letaknya 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Candi bercorak Hindu yang dibangun oleh Rakai Garung dari kerajaan Mataram Hindu di abad ke-9 ini sebelumnya ditemukan oleh seorang petani desa setempat pada 1966, yang kemudian dipugar oleh Dinas Purbakala pada 1986. Kemungkinan candi ini tertimbun material letusan Gn. Merapi pada 1006.
Kompleks candi ini dikelilingi oleh pagar batu dan memiliki satu candi utama, serta 3 candi pengawal. Di dalam candi utama terdapat lingga-yoni yang melambangkan kesuburan.
Umumnya para pengunjung candi ini mengabadikan foto diri (#selfie) karena komplek Candi Sambisari terawat dengan apik, baik taman maupun percandiannya. Tak mau ketinggalan pergerakan matahari, seusai berfoto kami segera angkat kaki ke candi berikutnya, Candi Kadisoka.


Candi Kadisoka terletak sekitar 8 km di utara Candi Sambisari. Akses menuju candi ini cukup sulit karena terletak di antara lahan pertanian dan tambak warga dengan jalanan berbatu. Seharusnya candi ini dijaga oleh 2 orang petugas, namun tidak ada penjagaan sama sekali waktu kami datang. Sama seperti Candi Sambisari, candi ini berada 3 meter di bawah tanah. Terlihat dari fisik candi, sepertinya penggalian candi ini belum rampung.
Candi bercorak Hindu ini ditemukan pertama kali pada 2000 oleh seorang penambang pasir setempat. Setelah dilaporkan ke BPPP, penggalian dimulai pada Februari 2001. Pada sisi timur candi, ditemukan berbagai logam mulia dan peninggalan harta lainnya. Diperkirakan, candi ini sebelumnya tertimbun oleh lahar Gn. Merapi dari Kali Kuning yang berjarak 100 meter di timur candi.

© 2014 Johan FJR - foto2 oleh Ustadzah Vera #MakeItHappen2015

Selasa, 13 Januari 2015

Ukiran-ukiran Baru

Brrruuummm ...

Motor tua ini dengan kencang melintasi aspal mulus berkelok di kaki Gunung Sumbing. Roda-roda dengan ruji berkarat ini terus berputar, semakin kencang ketika harus melintasi tanjakan. Sesekali kendaraan kawan bersorai, menandakan bahwa peradaban masih ada hingga di wilayah berselimut ini. Ia melintasi desa dengan aspal yang remuk, hingga pada akhirnya, seseorang tersenyum ketika tiba di lokasi tersebut.

"CANDI SELOGRIVO" Begitulah yang tertulis di gapura tersebut. Sebuah bagunan mungil terletak di sampingnya: tempat kita membeli tiket. Seusai membayar HTM sebesar Rp. 3000, tanpa pikir panjang saya bergegas masuk ke dalam area wisata candi. "Dik, arep mbarengi rak? Dhalane aduh lho! // Dik, mau ke atas bareng nggak? Jalannya jauh lho!" Tawaran menarik agar saya cepat tiba di tempat. Sayang saya menolaknya hanya demi alasan menikmati pemandangan. Seperti yang dijanjikan pada tiket masuk.

Saya mulai mendaki menuju candi dengan berjalan kaki. Sesembari memotreti keindahan alam pegunungan yang terbentang. Pandangan saya berputar 360° sambil mengaitkan apa yang saya lihat dengan gejala geologis yang saya tahu. Tak sadar sinyal 3G tablet tak tertangkap. Di sepanjang jalan, rimbunan pepohonan terlihat dengan jelas. Warna hijaunya ikut lenyap bersama hijaunya areal persawahan.

Ketika melangkah menyusuri jalanan setapak, saya berpapasan dengan ibu-ibu yang membawa hasil panen sayuran, bapak-bapak yang siap menyemai sawah, juga muda-mudi desa yang mengolah kebun. Pertanian di sini memang didominasi oleh persawahan, namun ada juga cabai, terong, kentang, juga singkong. Sesekali motor matik melintas yang dipaksakan untuk membawa gelondongan kayu, entah legal atau tidak.

Tak berapa lama kemudian, tibalah saya di bagian akhir pendakian. Trek ini ditandai dengan adanya gapura. Sekitar 50 meter ke depan, terdapat beberapa bangunan yang telah rusak. Dibiarkan begitu saja. Barulah saya tiba di Candi Selogrivo.

Memasuki kawasan candi, saya diminta untuk mengisi daftar hadir. Sama dengan di Yogya. Saat saya datang, kawasan candi sepi. Hanya ada tukang kebun candi, pasangan kekasih, dan dua pemudi SMA lokal. Tanpa banyak basa-basi, saya melihat dan memotret kondisi candi. Alhasil, saya kecewa.

Candi Selogrivo ini berada dalam pengelolaan Badan Pelestarian Cagar dan Budaya Jawa Tengah. Candi yang terletak di desa Kembangkuning ini terletak di wilayah perbukitan Gn. Sumbing dan menjadi salah satu objek wisata lokal di Kec. Windusari, Magelang. Dilihat dari bentuk bangunannya, seperti atap candi yang mirip Candi Borobudur, saya memasukkannyanke dalam candi Buddha. Tidak ada relief di dinding luarnya.

Satu hal yang sangat disayangkan adalah kondisi candi yang sudah SANGAT MEMPERIHATINKAN. Kunjungan saya kali ini memang berdasarkan hasil pencarian foto di internet yang diambil 2 tahun lalu. Sayangnya itu sangat kontras dengan yang kini ada di hadapan saya.

Dua buah sabuk kuning terikat di tubuh candi hingga 'melilit' candi tersebut. Bila diperhatikan lebih dekat, jawaban atas mengapa sabuk itu dipasang terjawab: belasan-mungkin-puluhan grafiti dari tangan-tangan bodoh tak bertanggungjawab terukir di sana. Bukan ukiran orang zaman dulu. Tak hanya itu, patung yang menempel di dinding candi pun rusak. Bagian tubuh dari arca tersebut ada yang hilang kepalanya, perutnya, bahkan kakiknya. Mirisnya, saya melihat papan peringatan dan para pengunjung sebagian besar tidak memperdulikan peringatan tersebut. Bahkan konon katanya candi ini biasa dijadikan lokasi pacaran.

Tak mau berlama ditelan rasa kecewa, saya buru-buru kembali turun. Toh saya dikejar oleh awan kelabu di atas sana. Melintasi kebun cabai yang tengah mahal, saya tertarik untuk menjepretnya. Tau-taunya ...

"Wei. Adja dijipuki wei!" Kaget diteriakin orang lokal, saya berlagak interlokal. "Pak, gambar saya bagus nih?" "Kanda apa kowe kuwi?" "Bapak mau saya foto?" "Cah edan!"

Lolos deh! =)

"Sudah saatnya kita sebagai bangsa berbudaya menghormati peninggalan nenek moyang kita. Dan tidak ada pihak manapun yang berhak mengusiknya."

© 2014 Johan FJR

Kamis, 01 Januari 2015

#Terkabul2015: Pulang Kampung

"Kamu punya rencana apa saat pulang kampung nanti?"

Pertanyaan saya kepada seorang siswa kelas 4 SMART Ekselensia Indonesia pagi minggu terakhir tahun 2014 lalu, mendapat jawaban yang tak terduga. Sebelumnya saya pernah mendengar ia dan beberapa kawannya punya rencana untuk menjelajah beberapa lokasi petualangan dengan gaya backpacker di provinsi Jawa Tengah dan sekitarnya.

Namun ternyata siswa ini menjawab, ingin mendaftarkan diri menjadi relawan untuk membantu korban bencana alam, yang belum lama ini terjadi di daerah asalnya. Waah... saya sempat tercenung sejenak, sebelum berucap, "Hebat. Semoga nanti liburmu bermanfaat bagi banyak orang ya."

"InsyaAllah, Ustadzah. Terimakasih," balasnya.

Selintas sebuah ide menyala di benak saya. Kebetulan juga sih anak ini anggota ekskul jurnalistik. "Nah, bagaimana kalau kamu membuat catatan pengalaman kamu saat libur besok?" saya susul permintaan ini.

"Nanti dikirim ke sekolah lagi, ustadzah? Tulis surat seperti dua tahun lalu?" ia bertanya balik, mengacu pada kegiatan yang digagas ustadzah Retno Handayani, guru bahasa Indonesia sekolah kami pada musim pulang kampung dua tahun lalu.

"Bagaimana kalau kali ini tidak ditulis tangan? Kirim lewat surel? Nanti kita buat blog agar bisa langsung diakses semua orang? Biar bisa dibaca teman-teman dan mereka juga menulis kisah liburan mereka?" Bertubi-tubi ide-ide ini saya keluarkan satu persatu sampai siswa ini tak berkutik di lapangan apel itu ^_^ Karena memang tidak ada pilihan lain, siswa ini pun mengangguk-angguk saja :)

Nah, saya anggap sudah ada kesepakatan proyek liburan dalam pulang kampung tahun 2015 ini. Kami pun sepakat membuat nama proyek ini #Terkabul2015. Seorang siswa lain kami libatkan agar bersedia membuat blog sebagai sarana menampung curhat kegiatan pulang kampung kami. Sebagai peramai kegiatan, saya berkeliling meminta alamat surel dan akun twitter siswa-siswa lain yang selama ini punya potensi sebagai tukang curhat, hehe... Maksudnya tentu saja mengajak mereka ikut bergabung menyumbang tulisan bilamana blog ini sudah jadi.




Jadwal pulang kampung siswa SMART sudah dimulai dini hari kemarin, Kamis (31/12). Sebagian besar siswa saat ini sudah bertemu keluarga masing-masing. Perjalanan yang unik dan berbeda pun dialami tiap siswa, seperti Arman dan Yanwari yang kali ini pulang naik angkot tanpa dijemput orang tua. Blog ini pun sudah jadi. Terimakasih buat +Johan FJR yang memberi tema berwarna peach untuk blog yang ceria ini. Semoga blog ini bisa mengemban peran mulianya ya...