Mengejar matahari terbenam, kami pun segera merapat ke Jln. Solo. Di sana terdapat dua candi yang berdekatan namun berseberangan dengan Jln. Solo. Kami segera mendatangi candi di sisi utara, Candi Sari.
Candi ini berada di dalam area permukiman warga. Walau begitu, sepertinya warga sadar akan vitalnya keberadaan situs ini, terbukti dengan tidak adanya bekas kerusakan di areal candi ini. Berbeda dengan ketiga candi sebelumnya, candi yang satu ini bercorak Buddha. Dibangun pada abad ke 8-9 Masehi oleh kerajaan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dan diperkirakan dulunya merupakan vihara (kuil Buddha) dimana para biksu tinggal serta melaksanakan upacara keagamaan.
Candi Sari ditemukan kembali pada abad pada awal abad ke-20 oleh seorang arkeolog Belanda, A. J. Bernett Kempers, tepatnya oada 1929-1930. Pada saat itu, situs ini dalam keadaan rusak berat. Namun dengan berpedoman pada prasasti yang ada, bentuk candi ini dibangun kembali.
Di dalam Candi Sari, terdapat 3 ruangan. Masing-masing ruangan dipantau oleh CCTV. Berdasarkan bentuk fisik candi, letak pintu, serta jendela, candi ini bertingkat hingga 2-3 lantai. Lantai bawah sebagai tempat belajar dan melaksanakan ritual keagamaan para biksu, dan lantai atas untuk menyimpan benda-benda keagamaan. Sayangnya, beberapa bagian candi ada yang telah berubah, seperti bingkai jendela yang semula batu, kini berganti semen. Kemungkinan kerusakan terjadi pada saat penemuan atau pemugaran.
***
Matahari semakin tenggelam oleh cakrawala. Sebelum masa shalat ashar berakhir, kami menyempatkan shalat dulu di Masjid An-Nurumi. "Itu lho, masjid yang mirip bangunan katedral di Moskow!" ujar Rein. Saya tentu tahu karena saya biasa lewat Jln. Solo, dan masjid dengan atap yang mencolok ini terlihat jelas dari pinggir jalan.
Seusai shalat, kami menyeberangi Jln. Solo dan segera masuk ke jalanan pedesaan. "Soalnya gawat kalau masuk lewat pintu utama candi," ujar Rein sambil menunjuk jalan masuk utama. "Ada kantor polisi di depannya." Saya tersenyum.
***
Walaupun sama-sama terletak dekat dengan Jln. Solo, Candi Kalasan lebih terlihat. Candi ini juga terlihat sewaktu naik Prameks tadi pagi. Candi ini bercorak Buddha, sama dengan Candisari. Merunut pada Prasasti Kalasan, Candi Kalasan dibangun bersamaan dengan Candisari, namun memiliki perbedaan fungsi yakni Candi Kalasan digunakan sebagai pemujaan Dewi Sita. Menurut seorang sejarawan Belanda pada tahun 1928, Van Rumond, Candi Kalasan tidak dibangun tunggal (sendiri), melainkan memiliki beberapa candi kecil penunjang dengan stupa di atasnya.
Candi yang menghadap ke arah timur ini memiliki pintu di semua sisi kecuali barat. Masing-masing pintu ini akan mengantarkan pengunjung ke tiga ruangan yang berbeda. Untuk memasuki ruangan tersebut, pengunjung harus menaiki tangga candi yang telah hancur. Hal paling menakjubkan adalah ruang utama yang memiliki patung Dewi Sita, dimana apabila dibayangkan, betapa hebatnya orang zaman kerajaan dahulu dalam menyusun bebatuan, begitu kompleks, dan indah.
Hari semakin sore, dan corak kuning-kemerahan di angkasa semakin mencolok. Birunya langit semakin memudar, jalanan Sleman kian ramai, saatnya kami kembali ke rumah Rein. Sayang kami harus berpisah dengan Ustadzah Vera yang sore ini juga harus pulang ke Magelang. Kami bertiga dan adik Rein, Rian, segera mandi dan makan malam serta tidur untuk mempersiapkan energi tuk esok hari.
© 2014 Johan FJR - foto2 oleh Ustadzah Vera #MakeItHappen2015



Tidak ada komentar:
Posting Komentar