Rabu, 21 Januari 2015

Kanal-kanal Amsterdam

"Fuuuh! Fuuuh! Fuuuh!"
Nafas saya terengah-engah begitu dipaksa untuk jogging (lari santai) sejauh 5 kilometer. Memang tubuh ini sudah sangat lama tidak dilatih, bahkan begitu diminta untuk berjalan 10 kilometer sekalipun, sudah memilih untuk menyerah. Akan tetapi tumben, kali ini saya --tanpa beban pikiran, atau paksaan dari pihak manapun, mau saja untuk jogging menyusuri jalur sepeda baru di samping progo (istilah kali khusus pembuangan, berwarna keruh, dan biasanya deras).
Saya tidak sendiri, namun ada beberapa bunga desa yang sejalan dengan saya. Mereka menuju ke arah yang sama, mungkin dengan kecepatan yang sama pula (kita jodoh dong =D). Di belakang mereka ada pesepeda, seorang anak muda, mungkin pecinta trek berbahaya, dengan kecepatan ugal-ugalan. Makin ke belakang lagi ada seorang kakek yang sudah berumur, masih bersemangat untuk lari pagi. Saya salut.

Pemandangan Gn. Sumbing memang menjadi fokus tatapan saya beberapa saat, sambil sesekali menoleh rute yang dilewati. Tanpa disadari, segeralah saya tiba di sebuah jembatan. Bukan jembatan biasa yang menyeberangkan manusia, karena jembatan ini justru melanjutkan aliran sungai yang terputus oleh jurang.

Melihat desain dan arsitektur dari jembatan ini, saya merasa ini bukan rancangan orang Indonesia. Benar saja, saya mendapatkan jawabannya begitu kakek tadi lewat, "Ono opo le? Jembatane apik to! Kuwi gaweane Londo." Yah, sangat disayangkan jembatan seperti ini tidak terawat. Memang bukan objek wisata, tapi setidaknya jembatan ini objek sejarah.

Melihat desain dari jembatan ini, saya kembali teringat pada Tower Air Kota Magelang. Ya, kedua bangunan ini sama-sama berhubungan dengan air. Tower air atau 'water torren' yang kini menjadi ikon Kota Sejuta Bunga ini masih terawat dengan baik. Bahkan masih digunakan sebagai penyimpan air. Bangunan yang terletak di sudut barat laut alun-alun yang mirip dengan 'kompor minyak' ini kini menjadi salah satu aset milik PDAM.


Tower dengan tinggi 21,2 meter ini dioperasikan pertama kali pada 1920. Desain bangunannya sendiri dirancang oleh arsitektur berkebangsaan Belanda, Hermann Thomas Karsten, dan dikerjakan oleh tenaga kerja asal Sulawesi. Hasilnya, tower ini mampu menyimpan air sebanyak 1.750.000 liter. Selain itu, untuk urusan distribusi, Belanda juga telah menanam pipa-pipa besar dan kuat sepanjang 8,5 kilometer yang digunakan untuk mengalirkan air dari tower ke 7 wilayah dari pusat kota. Walau sudah terlampau lama, pipa-pipa dengan merek Century Utrecht NV ini sama sekali belum pernah mengalami kebocoran, tetap beroperasi dan belum pernah diganti atau diperbaiki, sama seperti dengan mesin dari tower air ini.

Pembangunan Kota Tuinn (nama Magelang masa kolonial) oleh Belanda tak hanya sebatas daerah kota saja, namun juga kabupaten. Karena Magelang memang salah satu kota penting bagi Belanda, tak hanya sebagai kota basis militer, namun juga pendidikan dan perdagangan. Bahkan, kota ini juga mendapatkan pasokan listrik terlebih dahulu sebelum kota-kota yang lain.

***

Esok harinya, saya hanya bertugas jaga rumah. Namun cuaca cerah di luar menarik saya untuk mengikuti jejak saluran air bersejarah yang dibuat oleh Belanda. Tanpa berpikir panjang, saya segera angkat kaki dari rumah dan memulai ekspedisi dari jembatan kanal kemarin.

Progo atau kanal air khusus irigasi ini berhulu di Temanggung dan memiliki lebar tetap sekitar 10 meter. Bantaran progo ini bukan tanah serapan, melainkan tanggul permanen dari semen dan bebatuan. Sesekali terdapat pintu air kecil untuk mengatur volume air untuk irigasi. Dari kawasan Pondok Asri II, sungai ini berbelok ke timur menuju gerbang air Gembongan yang memiliki 2 pintu. Pintu air ini memiliki fungsi selain untuk mengatur debit aliran air, juga menahan laju air agar tidak terlalu cepat.

Progo ini terus menuju ke timur lalu berbelok ke selatan setelah berpapasan (namun tidak bersatu) dengan Kali Mbelik (kotoran) karena kedua kali ini hanya tumpang tindih. Setelah sekitar 300 meter ke selatan, barulah progo ini berbelok ke timur melalui air terjun dan terowongan. Progo ini pun kembali berpapasan dengan Wangan (saluran irigasi skala kecil sekaligus pembuangan <wangan> sampah organik), namun tetap tidak menyatu.
Setelah melewati terowongan yang di atasnya terdapat Jln. Magelang dan eks-rel kereta Magelang, barulah aliran progo ini berbelok ke selatan melewati air terjun bertingkat dan permukiman penduduk. Semakin ke selatan, aliran progo kian berkelok pelan bagaikan meander. Namun sayangnya terjadi pengendapan lumpur di sisi yang mendapatkan aliran lebih lambat.

Memasuki kawasan Tegowanon, barulah aliran progo bertemu dengan aliran yang ditransfer dari Kali Manggis melalui kanal irigasi Manggis. Berdasarkan buku "Magelang Middlepunt van den Tuinn van Java", kanal irigasi ini dibangun oleh Belanda pada tahun 1857 untuk mengairi 625 ha lahan persawahan dalam pemenuhan Trias Van Deventer, juga untuk mengurangi debit Kali Manggis yang berlebih supaya dapat mencegah terjadinya banjir bandang.

Di sebelah selatan pertemuan kedua aliran ini terdapat gerbang air Tegal-Jambe. Gerbang yang dibangun bersamaan dengan kanal-kanal air ini mengatur laju air ke pusat Kota Tuinn. Saya berpaling ke arah timur, mengikuti kanal Manggis yang berair tenang hingga ke awal ia bermula, gerbang air Plerret. Umumnya kanal dimanfaatkan untuk pengairan sawah, akan tetapi ada juga yang menggunakannya untuk mandi-minum ternak, juga tambak ikan tawar.

Gerbang air Plerret adalah bendungan Kali Manggis (kali di timur Kota Tuinn) yang berupa tanggul setinggi 2.5 meter dengan 3 pintu air di timur Payaman. Sekilas tidak ada yang istimewa di tempat ini.

Keberadaan batu-batu kali ukuran lemari es yang terdampar di persawahan pinggiran lembah meyakinkan saya bahwa dulu Kali Manggis telah ada ribuan tahun silam. Kali pun semakin dalam karena aliran kali yang menggerus bebatuan dan membawa endapan ke pantai selatan. Keberadaan gerbang Plerret juga mengurangi kecepatan aliran kali ke gerbang Poncol.

"Walaupun Belanda menjajah bangsa Indonesia, tentu masih ada peninggalan-peninggalan positif yang diakibatkannya. Entah langsung maupun tidak."

***

Tak terasa hari semakin siang. Pegal dan lelah mulai membebani tubuh saya, beruntung awan membentengi saya dari panas matahari langsung. Sudah waktunya bagi saya kembali ke rumah dengan langkah pelan namun pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar