Selasa, 20 Januari 2015

Mistisisme 1001 Candi

Terlalu pagi bagi saya ketika Rein menghentikan kisah dalam mimpi saya. Dalam waktu singkat begitu saya sadar tengah berada di rumah orang, saya bergegas bangun dan melaksanakan shalat shubuh.
Sebenarnya kami bertiga tidak memiliki agenda pasti setelah kemarin Ustadzah Vera pulang meninggalkan kami. Hari ini kami kosong agenda dan tidak punya rencana untuk pergi ke mana. Yang pasti saya diminta pulang ke rumah sebelum sore karena malam ini di alun-alun Kota Magelang ada konser dakwah dagelannya Cak Nun. Entah tertarik atau tidak, saya lebih ingin berkelana ke Punthuk Sethumbu di Majak Singi, Menoreh.

Terlanjur masih ada di Sleman, tepatnya Kalasan, saya ingin menghabiskan waktu dulu di sini. Google Maps kembali dibuka, dengan kemampuan GPS, kami mencari alternatif wisata di sekitar. Ditemukan! Bangunan cagar budaya sejauh 5 kilometer di tenggara rumah Rein yang tidak lain adalah ... kompleks Candi Prambanan.

'Ah, gw dah pernah kesana bro!"
"Itu kan lu Rein, orang lokal sini. Lha, gw kan belum. Lu Ilyas?"
"Gw juga belum."
"Noh, 2-1 kan!"
"Oke, sekarang kita ke sana. Caranya gimana?"
"Gimana kalo lu antar kami nyampe Jln. Solo. Nanti kami naik TransJogja di KR II. Kita ketemuan di gerbang masuk. Lu tetep naik motor aja nyampe Prambanan. Toh polisinya kagak tahu kalo lu nggak punya SIM. Asal nggak ngelanggar aja," dasar (-_-)!
Saya dan Ilyas segera membeli tiket pass Rp. 4000 dan menunggu TransJogja jalur apa saja karena sudah pasti ke Prambanan. Sepuluh menit kemudian bus kuning-ijo itu mengangkut kami.

Sepanjang perjalanan, kami berdua hanya berdiam. Entah mungkin males, atau memang tidak ada topik pembicaraan. Lalu keheningan itu pecah seketika bus TJ ini tiba di bangjo Bogem, Sleman.
Dari kejauhan, saya melihat beberapa 'wanita' dengan pakaian super minim. Ada yang menggunakan beha saja, kacamata, lipstik menor, dan ada juga yang menggunakan rok 1/8 (apaan tuh?). Mereka bergoyang dan berusaha memikat para pengguna jalan.

Semula kami kira mereka itu para PSK. Setelah saya mengenakan kacamata, "Ya ampun! WARIA!"
Tawaan kami disambut dengan tatapan sinis pengguna TJ yang lain. Maklum dong, kami kan bukan orang sini, mana tahu begituan! Kami berganti diam, dan menatap sinis yang lain, cuma kami kalah jumlah.
Kami diam hingga tiba di halte Prambanan. Tanpa pikir panjang, kami langsung menuju sanggar di depan loket sambil mencari Rein, takutnya dia sudah lama menunggu. Tetapi keadaan justru berbalik karena ia belum tiba di Prambanan. Ya sudah, saya buka tablet dulu sambil mempertimbangkan penawaran yang terpampang di pintu loket.

Untuk bisa memasuki komplek Candi Prambanan, setiap pengunjung dewasa dipatok Rp. 30.000, dan anak-anak Rp. 10.000. Lebih untung lagi untuk kunjungan karyawisata yang minimal 20 orang. Apabila trip perjalanan ingin dilanjutkan satu tiket dengan trip ke Candi Ratu Boko di bukit seberang selatan sana, menjadi Rp. 45.000. Itu sudah termasuk angkutan PP Prambanan-Ratu Boko.
Karena masing-masing dari kami terbatas oleh waktu, dan tidak ingin film "Keramat 2" dibuat, akhirnya kami memilih tiket Prambanan saja.Tetapi menurut saya harga tiket masih cukup mahal dibandingkan dengan tiket masuk Borobudur (yang pada Januari 2014 lalu), Rp. 15.000.

Di dalam, objek pertama yang kami temui adalah plakat pengesahan komplek Candi Prambanan oleh Presiden Soekarno pada 1953 silam. Tanpa basa-basi, kami segera untuk mendekati candi utama di komplek percandian ini: Candi Roro Jonggrang.

Candi Roro Jonggrang dibangun sekitar tahun 850 M pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Hindu dan ditujukan untuk pemujaan terhadap trimurti, yakni tiga dewa dalam kepercayaan Hindu; Dewa Brahma, Dewa Wishnu, dan Dewa Siwa. Selain untuk pemujaan, pembangunan Candi Roro Jonggrang juga ditujukan untuk meyaingi wangsa Syailendra atas Candi Borobudur sehingga mengukuhkan almamater wangsa Sanjaya di tanah Jawa.

Pembangunan Candi Roro Jonggrang sendiri dilakukan dengan membuat sedotan Kali Opak yang berada di barat komplek ini. Tujuannya agar erosi yang menggerus bantaran kali tidak membahayakan keberadaan candi, sehingga aliran Kali Opak dibelokkan.

Pada masa kerajaan Mataram Hindu masih menetap di Jawa Tengah Candi Roro Jonggrang ini menjadi pusat peribadatan Hindu di tanah Jawi. Namun ketika Gn. Merapi meletus pada 930 dan membahayakan keberadaan kerajaan, Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur. Sejak saat itu, kondisi candi kian memperihatinkan.

Bertahun-tahun kemudian semenjak candi terkubur oleh material letusan, candi kembali ditemukan oleh warga sekitar. Kendati tidak tahu-menahu mengenai asal-usul candi, siapa pembuatnya, kapan, dan tujuan mengapa dibangun candi ini, maka penduduk lokal mengarang cerita fantasi mengenai Roro Jonggrang yang meminta dibangunkan 1001 candi dalam satu malam.

Pada abad ke-16, terjadi gempa dahsyat yang berdampak pada runtuhnya candi. Sejak saat itu, terjadilah penjarahan atas arca dan batu-batu asli candi hingga abad ke-19. Selain menjadi situs sejarah, Candi Roro Jonggrang dan Kali Opak menjadi batas wilayah antara Kesultanan Yogya dan Kasunanan Surakarta yang sebelumnya merupakan kerajaan Mataram Islam pada 1755.

Semenjak Nusantara berada dalam genggaman kolonialisme Belanda, praktik pemugaran terhadap komplek Candi Prambanan dilaksanakan, tepatnya pada 1930 oleh V.R. Van Romondt. Namun pemugaran hingga kini masih berlangsung untuk memulihkan candi pasca gempa Yogya 2006 lalu.

Tubuh Candi Roro Jonggrang terbagi dalam 3 bagian utama yang menggambarkan pelapisan (kastaisme) makhluk dunia, yakni (dari bawah); Bhurloka (manusia, jin, setan, binatang), Bhurwaloka (orang-orang suci, pendeta, bhiksu), Swarloka (para dewa). Selain Candi Roro Jonggrang, di komplek Candi Prambanan juga terdapat Candi Lumbung, Candi Bubrah, serta Candi Sewu yang sayang pada saat kami berkunjung, proses pemugaran maasih berlangsung.

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati komplek Candi Prambanan, kami berteduh di sebuah halte depan pintu masuk Candi Sewu. Nampaknya hanya Candi Roro Jonggrang saja yang ramai. Di candi yang satu ini bahkan hampir tidak ada kunjungan sama sekali.

Saya membuka tablet dan bingung, entah kenapa sensor layar sentuhnya galat. Bahkan menjadi mirror (sentuh atas, reaksi bawah/berlawanan). Saya pun ceritakan ke Rein dan Ilyas. Berdalih ada kekuatan mistis di sini, saya mana percaya hal begituan. Karena matahari hampir berada di atas kepala, kami segera keluar, makan siang di terminal, dan pulang ke rumah masing-masing.

***

Setibanya saya di rumah, entah kenapa semua kegalatan di tablet itu lenyap (loh?).

+JOHAN FJR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar