Senja hari
barulah nenek mengajak untuk menyusuri sepanjang Jalan Malioboro
dengan andhong.
Nenek memang tidak menjelaskan perbedaan andhong,
delman, maupun kereta lain yang ditarik oleh kuda. Nenek hanya
menunjukkan, kemudian ikut menawar harga untuk mengendarai kereta ini.
Harga yang
disepakati dari Stasiun Tugu sampai Alun-Alun Kidul adalah Rp
70.000,00. Entah sesuai, maupun belum sesuai, harga itu sudah cukup
murah daripada penawaran awal, Rp 100.000,00. Mungkin harga itu tidak
begitu mahal kalau melihat kelangkaan andhong
pada sore itu.
Sepanjang
jalan nenek menunjukkan sekaligus menjelaskan hal unik sepanjang
Jalan Malioboro, misalnya gedung DPR, pepohonan yang hilang sepanjang
jalan, toko batik yang berjajar, pasar, museum serta gedung gubernur.
Sebelum titik nol, nenek meminta untuk mengarahkan pandangan di sisi
sebelah kiri jalan. Saat itu terdapat miniatur gajah dengan aksesoris
warna di kulitnya. Memang di trotoar sebelah timur perempatan jalan
menuju ke Alun-alun Utara selalu dipajang instalasi sebagai benda
seni untuk publik.
“Ibu ini
benar-benar orang sini, ya?” komentar pak kusir keheranan atas
kelancaran narasi nenek.
“Lo,
dari tadi dikira bohong, ya?” Spontan, kami semua protes.
Mungkin pak
kusir khawatir
Nenek kembali
beraksi ketika andhong kami sudah menyusui alun-alun.
“Kemarin di
sini ada sekaten.” Beliau menunjuk bekas-bekas di lapangan. “Tapi,
sekarang sudah selesai?”
“Kenapa?”Saya
heran.
“Entah ....
Dengar-dengar ada yang tidak berkenan.”
“Wah, Ibu
juga tahu itu?” Pak kusir heran lagi.
“Wah, ini
mana pemandunya, mana wisatawannya?”
“Lha,
saya bukan orang sini, e.”
Jawab pak kusir malu-malu.
“Panjenengan
tiyang pundi?” Kemudian, nenek dan
pak kusir mengobrol.
Setelah
alun-alun andhong memasuki kampung di lingkungan keraton. Jalan yang
dilewati dapat disebut jalan utama di perkampungan itu. Oleh karena
itu, rumah-rumah di sepanjang jalan kampung itu masih dapat disebut
besar. Semakin masuk ke perkampungan pasti jalan dan rumah-rumah
semakin kecil dan letaknya tidak beraturan. Demikian pula jalanannya,
lama kelamaan mengecil serupa gang senggol.
Saya melihat
sebagian besar rumah-rumah tersebut dijadikan cafe atau warung kopi.
Sampai di pertigaan menuju Pasar Ngasem, nenek menunjukan arah menuju kafe yang paling elit dan mahal di wilayah keraton. Pada perjalanan
berangkat, saya tidak melihat penunjuk arahnya. Sebaliknya, saya
dapat melihat dengan jelas spanduk penunjuk arah kafe tersebut.
Sampai di
Alun-alun selatan saya baru sadar, rupanya nenek ingin mengajak
cucunya naik sepeda mobil (atau mobil sepeda?). Pernah membaca berita
di internet. Saya pun hanya melihat fotonya. Baru saat itulah saya
melihat bentuk sepeda mobil.
Sebagai mobil,
bentuknya tak beda dengan mobil, namun hanya rangka saja. Sebagai
sepeda, sepeda ini tidak berlantai dan dilengkapi rangka sebagai
pijakan serta tempat pedal sepeda. Dilengkapi lampu di setiap sisi
bagian tubuhnya, sepeda ini tidak memiliki pintu dan jendela.
Lampu-lampu itu menyala jika dikayuh. Lebih meriah lagi, musik
terdengar kencang dari kendaraan ini.
Para keponakan
harus menunggu sampai hari gelap untuk dapat menyewa sepeda itu.
Namun, mereka tidak resah menunggu sebab mereka menghabiskan waktu
dengan perang gelembung sabun. Jika capek, mereka melihat sekitar
sebentar. Di sekitar para penjual tak mau kalah, mereka membuat hujan
gelembung balon dengan alat yang lebih besar sebagai pembuat
gelembung. Sampai akhirnya permainan itu berhenti karena cairan sabun
telah habis dan si tengah ingin arum manis.
Saat alam
mulai gelap para keponakan segera memilih sepeda mobil yang ingin
mereka kendarai. Beberapa kali berganti pilihan, semua mengambil
posisi. Si sulung memegang kendali kemudi, yang lain mengambil posisi
di samping dan di belakang.
Saya
pikir akan aman, damai, dan tenteram. Sambil mengayuh, saya dapat
menikmati warna ungu senja. Saya pun akan lebih dapat menikmati
anggun beringin kembar.
Kenyataan
tidak semudah itu. Kami merasa sangat geli sehingga kesulitan untuk
mengayuh. Satu sama lain saling mengomentari, lalu tertawa geli.
Dalam keadaan tertawa, kayuhan terasa semakin berat, sampai-sampai si
tengah mengayuh ke belakang. Namun, kami semua tertawa gembira.
Ketika beristirahat di depan bekas kandang gajah di pojok Alun-alun
Selatan, nenek masih saja membahas sehingga kami terbahak kembali.
Untuk pulang,
nenek memilih becak yang tepat. Baru saya tahu, sekarang sudah ada
becak dengan mesin motor. Seperti sopir kendaraan lain, sopir becak
melengkapi diri dengan SIM. Sepanjang jalan si tengah tertawa
kegirangan. Tak terasa deru motor becak membawa kami kembali ke rumah
nenek, membuat liburan bersama nenek semakin menggembirakan.
-Retno Winarsi Handayani- #Terkabul2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar