Rabu, 21 Januari 2015

Liburan Bersama Nenek (Bagian 2)

Senja hari barulah nenek mengajak untuk menyusuri sepanjang Jalan Malioboro dengan andhong. Nenek memang tidak menjelaskan perbedaan andhong, delman, maupun kereta lain yang ditarik oleh kuda. Nenek hanya menunjukkan, kemudian ikut menawar harga untuk mengendarai kereta ini.
Harga yang disepakati dari Stasiun Tugu sampai Alun-Alun Kidul adalah Rp 70.000,00. Entah sesuai, maupun belum sesuai, harga itu sudah cukup murah daripada penawaran awal, Rp 100.000,00. Mungkin harga itu tidak begitu mahal kalau melihat kelangkaan andhong pada sore itu.

Sepanjang jalan nenek menunjukkan sekaligus menjelaskan hal unik sepanjang Jalan Malioboro, misalnya gedung DPR, pepohonan yang hilang sepanjang jalan, toko batik yang berjajar, pasar, museum serta gedung gubernur. Sebelum titik nol, nenek meminta untuk mengarahkan pandangan di sisi sebelah kiri jalan. Saat itu terdapat miniatur gajah dengan aksesoris warna di kulitnya. Memang di trotoar sebelah timur perempatan jalan menuju ke Alun-alun Utara selalu dipajang instalasi sebagai benda seni untuk publik.

Ibu ini benar-benar orang sini, ya?” komentar pak kusir keheranan atas kelancaran narasi nenek.
Lo, dari tadi dikira bohong, ya?” Spontan, kami semua protes.
Mungkin pak kusir khawatir

Nenek kembali beraksi ketika andhong kami sudah menyusui alun-alun.
Kemarin di sini ada sekaten.” Beliau menunjuk bekas-bekas di lapangan. “Tapi, sekarang sudah selesai?”
Kenapa?”Saya heran.
Entah .... Dengar-dengar ada yang tidak berkenan.”
Wah, Ibu juga tahu itu?” Pak kusir heran lagi.
Wah, ini mana pemandunya, mana wisatawannya?”
Lha, saya bukan orang sini, e.” Jawab pak kusir malu-malu.
Panjenengan tiyang pundi?” Kemudian, nenek dan pak kusir mengobrol.

Setelah alun-alun andhong memasuki kampung di lingkungan keraton. Jalan yang dilewati dapat disebut jalan utama di perkampungan itu. Oleh karena itu, rumah-rumah di sepanjang jalan kampung itu masih dapat disebut besar. Semakin masuk ke perkampungan pasti jalan dan rumah-rumah semakin kecil dan letaknya tidak beraturan. Demikian pula jalanannya, lama kelamaan mengecil serupa gang senggol.

Saya melihat sebagian besar rumah-rumah tersebut dijadikan cafe atau warung kopi. Sampai di pertigaan menuju Pasar Ngasem, nenek menunjukan arah menuju kafe yang paling elit dan mahal di wilayah keraton. Pada perjalanan berangkat, saya tidak melihat penunjuk arahnya. Sebaliknya, saya dapat melihat dengan jelas spanduk penunjuk arah kafe tersebut.

Sampai di Alun-alun selatan saya baru sadar, rupanya nenek ingin mengajak cucunya naik sepeda mobil (atau mobil sepeda?). Pernah membaca berita di internet. Saya pun hanya melihat fotonya. Baru saat itulah saya melihat bentuk sepeda mobil.

Sebagai mobil, bentuknya tak beda dengan mobil, namun hanya rangka saja. Sebagai sepeda, sepeda ini tidak berlantai dan dilengkapi rangka sebagai pijakan serta tempat pedal sepeda. Dilengkapi lampu di setiap sisi bagian tubuhnya, sepeda ini tidak memiliki pintu dan jendela. Lampu-lampu itu menyala jika dikayuh. Lebih meriah lagi, musik terdengar kencang dari kendaraan ini.

Para keponakan harus menunggu sampai hari gelap untuk dapat menyewa sepeda itu. Namun, mereka tidak resah menunggu sebab mereka menghabiskan waktu dengan perang gelembung sabun. Jika capek, mereka melihat sekitar sebentar. Di sekitar para penjual tak mau kalah, mereka membuat hujan gelembung balon dengan alat yang lebih besar sebagai pembuat gelembung. Sampai akhirnya permainan itu berhenti karena cairan sabun telah habis dan si tengah ingin arum manis.

Saat alam mulai gelap para keponakan segera memilih sepeda mobil yang ingin mereka kendarai. Beberapa kali berganti pilihan, semua mengambil posisi. Si sulung memegang kendali kemudi, yang lain mengambil posisi di samping dan di belakang.

Saya pikir akan aman, damai, dan tenteram. Sambil mengayuh, saya dapat menikmati warna ungu senja. Saya pun akan lebih dapat menikmati anggun beringin kembar.

Kenyataan tidak semudah itu. Kami merasa sangat geli sehingga kesulitan untuk mengayuh. Satu sama lain saling mengomentari, lalu tertawa geli. Dalam keadaan tertawa, kayuhan terasa semakin berat, sampai-sampai si tengah mengayuh ke belakang. Namun, kami semua tertawa gembira. Ketika beristirahat di depan bekas kandang gajah di pojok Alun-alun Selatan, nenek masih saja membahas sehingga kami terbahak kembali.

Untuk pulang, nenek memilih becak yang tepat. Baru saya tahu, sekarang sudah ada becak dengan mesin motor. Seperti sopir kendaraan lain, sopir becak melengkapi diri dengan SIM. Sepanjang jalan si tengah tertawa kegirangan. Tak terasa deru motor becak membawa kami kembali ke rumah nenek, membuat liburan bersama nenek semakin menggembirakan.

-Retno Winarsi Handayani- #Terkabul2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar