Selasa, 20 Januari 2015

Liburan Bersama Nenek (Bagian 1)

Libur telah tiba
Libur telah tiba
Hatiku gembira

Liburan memang menggembirakan. Manggung bersama kelompok rebana di kampung sendiri sampai jalan-jalan ke candi, pasti menggembirakan. Demikian pula bertemu dan di-cipika-cipiki nenek juga menggembirakan. Walaupun menginap jauh dari rumah sendiri, walaupun diganggu saudara tiga hari tiga malam oleh sepupu, liburan bersama nenek semestinya unik dan menggembirakan.

Mungkin itulah yang dialami ketiga keponakan saya. Tinggal jauh di luar kota membuat para keponakan jarang bertemu dengan nenek. Ketika mereka bertemu sang nenek, ekspresi gembira tidak dapat mereka sembunyikan.

Pagi itu para keponakan berlarian dengan riang di taman sekitar Masjid Syuhada. Mereka dijanjikan untuk bertemu sang nenek di sana. Kebetulan, kegembiraan mereka tidak mengganggu jadwal kunjungan nenek ke masjid tersebut.

Sambil mengawasi keriangan para keponakan, saya melihat ke sekeliling. Saya melihat bangunan masjid yang tidak sekadar bangunan masjid. Saya amati di bawah bangunan utama terdapat sekolah PAUD dan kantor pengelola Masjid Syuhada. Saya dapati pula di sekitar bangunan masjid yang didominasi cat hijau tersebut terdapat taman bermain serta lapangan kecil untuk sepak bola.

Masid Syuhada yang berada di tengah kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kotabaru, memang sudah dikenal tidak hanya sebagai tempat ibadah. Masjid ini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat akad nikah. Jadwal akad di masjid ini sungguh padat. Konon jadwal ini disusun kurang lebih enam bulan sebelum pelaksanaan akad.

Selain itu, Masjid Syuhada mengelola sekolah. Awalnya hanya sekolah Taman Kanak-Kanak. Karena masyarakat percaya dengan pola pendidikan sekolah ini, tingkat sekolah itu berkembang. Saat ini Masjid Syuhada sudah menyelenggarakan pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Atas.

Pada jam sekolah lingkungan itu terasa ramai. Sekelompok siswa SD Syuhada asyik bermain sepak bola. Di antara keriuhan mereka, terdengar lagu riang anak taman kanak-kanak. Di jalan depan lalu lalang mobil orang tua siswa menjemput selain pengendara yang memanfaatkan jalan. Di sekeliling pintu gerbang masjid bertebaran penjual. Minuman dingin, roti, tahu bakso, pempek, somay, kentang goreng, sampai mainan anak-anak, jilbab, sampai pakaian, semua tinggal pilih.

Di sekitar kesibukan di sekitar masjid dan beberapa gerombolan orang tua yang menunggui siswa, beberapa pengusaha menawarkan dagangan.
Berapa? Lima ribu?” Tanya nenek.
Enggak, Eyang. Dua puluh lima ribu.” Seorang pemudi tersipu di sebelah pemuda yang menenteng plastik besar.
Pantes, ayam goreng kok, lima ribuan, ya.” Nenek menimpali supaya suasana meriah.
Uang diterima, saya melirik kotak plastik transparan di tangan keponakan, “Ayam Goreng Kost-Kosan.” Selain nama produk dan merek, di kotak tersebut ditulis nomor kontak. Saya pikir, mereka mahasiswa kreatif. Ada saja yang memanfaatkan peluang ibu-ibu, orang tua siswa sekolah ini.

Keramaian itu dapat menghiasi keunikan bangunan Masjid Syuhada. Bangunan masjid berbentuk limas yang dilengkapi dengan tangga besar menuju tempat ibadah. Sisi-sisi kayu pada bangunan tampak unik, dari jauh garis-garis coklat itu memberi garis batas pada warna cat hijau bangunan tersebut.



Sayangnya, sejarah Masjid Syuhada tersembunyi. Saya tidak akan menemukan sebuah tugu kecil kalau tidak karena mengawasi keponakan yang berlarian. Tugu itu tidak lebih dari 2 m dari marmer yang berwarna abu-abu. Pada tiga perempat ketinggian tugu ini terdapat kotak hitam kecil yang berukirkan tulisan arti penting Masjid Syuhada pada pertempuran Perang Dunia II.


Tugu peringatan di Masjid Syuhada


Dulu Syuhada belum sebesar ini,” kata Nenek. “Bangunannya masih kecil. Tempat ini dulu jadi tempat pertahanan tentara. Banyak pejuang yang syahid di sekitar masjid ini,” lanjut Nenek. Sayang, dilihat dari bidang ilmu sejarah, keterangan Nenek kurang lengkap. Nenek hanya menggambarkan suasana pertempuran pada saat itu.

Liburan dengan nenek dilanjutkan ke rumah beliau. Berada di antara toko makanan khas dan cendera mata khas Yogyakarta, rumah nenek ramai oleh lalu lalang kendaraan. Lalang, bahkan kemacetan itu memuncak pada tanggal-tanggal libur karena bus-bus besar, bus wisata, berkeliaran di sepanjang jalan sebelah barat di belakang Jalan Malioboro.

Tidak heran, rumah beliau hanya berselang sekitar beberapa rumah dari Toko Bakpia Pathok 75. Makanan ringan yang berisi kacang hijau ini sangat dikenal dan disukai oleh para wisatawan. Walaupun bakpia 75 sudah dihargai paling tinggi, toko ini masih selalu ramai.

Lama tak mengunjungi rumah panjang itu, saya melihat pabrik tegel di sebelah rumah sudah benar-benar tutup. Debu menggumpal di dinding pabrik itu. Padahal, dahulu pabrik ini selalu ramai oleh pekerja yang membuat tegel untuk memang memenuhi kebutuhan lantai bangunan sekitar Yogya. Seiring dengan perkembangan model lantai, tegel tidak laku sehingga kegiatan di pabrik ini berhenti.

Selain nilai sejarah, penutupan itu memang disayangkan. Model-model tegel tersebut unik. Beberapa di antara model itu masih dipasang di depan halaman pabrik yang sekarang dijadikan lapangan parkir gratis.

Saya amati beberapa toko baru muncul di sepanjang jalan ini. Beberapa toko cendera mata, seperti kaos dan sandal tampak menghiasi beberapa toko bakpia yang berjajar di sepanjang jalan. Toko kue modern itu turut menyesaki jalanan tersebut. Kata nenek, toko kue atau roti itu didirikan oleh salah satu finalis acara mencari bakat di salah satu stasiun televisi. Bahkan, roti-roti itu dibuat dan disusun sendiri oleh sang finalis.
Namun, nenek tidak mengajak berbelanja di toko tersebut. Beliau justru mengajak makan siang di salah satu warung bakso di daerah Sido Arum, nama sebuah desa di daerah barat laut Yogya. Setelah menyusuri jalan desa yang berkelok-kelok, beliau memandu sampai dapat menemukan warung yang benar-benar berupa warung yang sederhana bangunan dan perabotnya.

Syukurlah, para keponakan tidak mempermasalahkan tempat. Mereka makan dengan lahab begitu masing-masing semangkok bakso dan mie ayam terhidang di depan mereka. Mereka tidak memedulikan bentuk bakso besar yang dibelah sehingga menyerupai bunga teratai, cantik. Tidak sampai lima belas menit, .... tandas.

(bersambung...)

-Retno Winarsi Handayani- #Terkabul2015

1 komentar: