Masih terlalu awal bagi kami untuk membeli tiket kereta lokal Prambanan Ekspress (Prameks). Kereta yang melayani rute Kutoarjo-Solo Balapan ini menerapkan tarif Rp. 6000/perjalanan Yogya-Surakarta PP. Masih ada waktu satu jam sebelum kereta berangkat, namun Kak Melita sudah siap di kabin kereta. Kak Melita memang mau pulang ke Jakarta dan tidak bisa ikut kami ke Yogya. Kak Melita pun segera on board sambil menanti kereta berangkat.
Bagi Ustadzah Vera, tidak lengkap jalan-jalan ke Surakarta kalau belum mencicipi kulinernya. Maka beliau mengajak kami ke sebuah warung makan di Jln. Hasanudin, Surakarta. Tidak lain tempat tersebut adalah WM. Selat Solo Vien.
Selat merupakan kuliner khas Surakarta yang terdiri dari wortel, timun, buncis, kentang goreng, selada, telur, kecap, serta daging yang disiram dengan kuah semur dan mayones. Terlihat dari komposisinya, kuliner ini merupakan kuliner serapan/adaptasi dari Salad dan menjadi menu santapan konglomerat dahulu.
Di warung makan yang buka dari pagi hingga siang ini, menu Selat tersedia dalam dua varian; Selat Daging Cacah (Rp. 8500), dan Selat Iga (Rp. 10000). Minuman yang tersedia untuk menunda dahaga ada jeruk dan teh, tersedia dingin dan panas.
Kembali lagi ke stasiun, kereta Prameks segera siap di jalur 3. Kami pun segera mencari tempat duduk sesuka kami, karena kereta lokal tidak mengatur tempat duduk. Mau berdiri juga boleh. =)
Segera kereta berangkat. Menurut jadwal, kami akan tiba di Stasiun Tugu jam 10.30 alias satu jam perjalanan. Berbeda dengan commuter line Jakarta, Prameks akan berhenti di beberapa stasiun saja, seperti Purwosari, Klaten, Maguwo, Lempuyangan, dan Tugu.
Rencana kami begitu tiba di Yogya adalah mengunjungi beberapa candi di sekitar Kalasan. Ya, candi-candi tersebut merupakan candi peninggalan Mataram Kuno yang tersebar di beberapa tempat, tak jauh dari rumah Rein. Maka, kami segera menaiki TransJogja jalur 3A dari halte Malioboro I dan turun di halte Jln. Solo K2. Untuk menuju ke rumah Rein, kami harus menaiki motor hingga Purwomartani.
***
Usai shalat Jumat, kami segera berangkat. Tadinya saya dan Ilyas merencanakan untuk bersepeda. Keinginan kami segera disangkal Rein. Terlalu beresiko kehabisan waktu dan capek, karena candi-candi tujuan kami tersebar dan jarak masing-masing candi cukup jauh. Mau tidak mau kami harus naik motor. Wah, Rein bisa ngeboncengin Ustadzah Vera dan adiknya, Rian. Kami (saya dan Ilyas), yang belum memiliki kelihaian dalam bermotor harus segera mempelajari cara mengemudi motor dengan baik. Ajaibnya, saya bisa menguasai motor Jupiter itu dalam 10 menit. =)
Kami segera berangkat, tentu dengan Rein sebagai pemandu jalan. Candi pertama, candi Sambisari. Motor yang saya kendarai sempat lompat gara-gara saya kurang seimbang dalam berganti gigi. Ilyas tersontak dan ngomel-omelin saya. =) Maklum, amatir. Siapa tahu nanti saya jadi pembalap sungguhan. =p Tapi impian itu langsung sirna begitu saya hampir menabrak Ustadzah Vera saat mau parkir. =3
Untuk memasuki Candi Sambisari, pengelola memang tidak mengenakan biaya masuk. Kita hanya diminta untuk mengisi kehadiran di pos penjagaan. Begitu masuk, Candi Sambisari terlihat jauh berbeda dengan candi-candi lainnya. Letaknya 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Candi bercorak Hindu yang dibangun oleh Rakai Garung dari kerajaan Mataram Hindu di abad ke-9 ini sebelumnya ditemukan oleh seorang petani desa setempat pada 1966, yang kemudian dipugar oleh Dinas Purbakala pada 1986. Kemungkinan candi ini tertimbun material letusan Gn. Merapi pada 1006.
Kompleks candi ini dikelilingi oleh pagar batu dan memiliki satu candi utama, serta 3 candi pengawal. Di dalam candi utama terdapat lingga-yoni yang melambangkan kesuburan.
Umumnya para pengunjung candi ini mengabadikan foto diri (#selfie) karena komplek Candi Sambisari terawat dengan apik, baik taman maupun percandiannya. Tak mau ketinggalan pergerakan matahari, seusai berfoto kami segera angkat kaki ke candi berikutnya, Candi Kadisoka.
Candi Kadisoka terletak sekitar 8 km di utara Candi Sambisari. Akses menuju candi ini cukup sulit karena terletak di antara lahan pertanian dan tambak warga dengan jalanan berbatu. Seharusnya candi ini dijaga oleh 2 orang petugas, namun tidak ada penjagaan sama sekali waktu kami datang. Sama seperti Candi Sambisari, candi ini berada 3 meter di bawah tanah. Terlihat dari fisik candi, sepertinya penggalian candi ini belum rampung.
Candi bercorak Hindu ini ditemukan pertama kali pada 2000 oleh seorang penambang pasir setempat. Setelah dilaporkan ke BPPP, penggalian dimulai pada Februari 2001. Pada sisi timur candi, ditemukan berbagai logam mulia dan peninggalan harta lainnya. Diperkirakan, candi ini sebelumnya tertimbun oleh lahar Gn. Merapi dari Kali Kuning yang berjarak 100 meter di timur candi.
© 2014 Johan FJR - foto2 oleh Ustadzah Vera #MakeItHappen2015


Wuiiiih. Cool gambarnya =)
BalasHapus