Libur telah
tiba
Libur telah
tiba
Hatiku
gembira
Liburan memang
menggembirakan. Manggung bersama kelompok rebana di kampung sendiri sampai jalan-jalan ke
candi, pasti menggembirakan. Demikian pula bertemu dan
di-cipika-cipiki
nenek juga menggembirakan. Walaupun menginap jauh dari rumah sendiri,
walaupun diganggu saudara tiga hari tiga malam oleh sepupu, liburan
bersama nenek semestinya unik dan menggembirakan.
Mungkin itulah
yang dialami ketiga keponakan saya. Tinggal jauh di luar kota membuat
para keponakan jarang bertemu dengan nenek. Ketika mereka bertemu
sang nenek, ekspresi gembira tidak dapat mereka sembunyikan.
Pagi itu para
keponakan berlarian dengan riang di taman sekitar Masjid Syuhada.
Mereka dijanjikan untuk bertemu sang nenek di sana. Kebetulan,
kegembiraan mereka tidak mengganggu jadwal kunjungan nenek ke masjid
tersebut.
Sambil
mengawasi keriangan para keponakan, saya melihat ke sekeliling. Saya
melihat bangunan masjid yang tidak sekadar bangunan masjid. Saya
amati di bawah bangunan utama terdapat sekolah PAUD dan kantor
pengelola Masjid Syuhada. Saya dapati pula di sekitar bangunan masjid
yang didominasi cat hijau tersebut terdapat taman bermain serta
lapangan kecil untuk sepak bola.
Masid Syuhada
yang berada di tengah kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kotabaru,
memang sudah dikenal tidak hanya sebagai tempat ibadah. Masjid ini
juga dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat akad nikah. Jadwal akad
di masjid ini sungguh padat. Konon jadwal ini disusun kurang lebih
enam bulan sebelum pelaksanaan akad.
Selain itu,
Masjid Syuhada mengelola sekolah. Awalnya hanya sekolah Taman
Kanak-Kanak. Karena masyarakat percaya dengan pola pendidikan sekolah
ini, tingkat sekolah itu berkembang. Saat ini Masjid Syuhada sudah
menyelenggarakan pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Atas.
Pada jam
sekolah lingkungan itu terasa ramai. Sekelompok siswa SD Syuhada
asyik bermain sepak bola. Di antara keriuhan mereka, terdengar lagu
riang anak taman kanak-kanak. Di jalan depan lalu lalang mobil orang
tua siswa menjemput selain pengendara yang memanfaatkan jalan. Di
sekeliling pintu gerbang masjid bertebaran penjual. Minuman dingin,
roti, tahu bakso, pempek, somay, kentang goreng, sampai mainan
anak-anak, jilbab, sampai pakaian, semua tinggal pilih.
Di sekitar
kesibukan di sekitar masjid dan beberapa gerombolan orang tua yang
menunggui siswa, beberapa pengusaha menawarkan dagangan.
“Berapa?
Lima ribu?” Tanya nenek.
“Enggak,
Eyang. Dua puluh lima ribu.” Seorang pemudi tersipu di sebelah
pemuda yang menenteng plastik besar.
“Pantes,
ayam goreng kok, lima ribuan, ya.” Nenek menimpali supaya suasana
meriah.
Uang diterima,
saya melirik kotak plastik transparan di tangan keponakan, “Ayam
Goreng Kost-Kosan.” Selain nama produk dan merek, di kotak tersebut
ditulis nomor kontak. Saya pikir, mereka mahasiswa kreatif. Ada saja
yang memanfaatkan peluang ibu-ibu, orang tua siswa sekolah ini.
Keramaian itu
dapat menghiasi keunikan bangunan Masjid Syuhada. Bangunan masjid
berbentuk limas yang dilengkapi dengan tangga besar menuju tempat
ibadah. Sisi-sisi kayu pada bangunan tampak unik, dari jauh
garis-garis coklat itu memberi garis batas pada warna cat hijau
bangunan tersebut.
Sayangnya,
sejarah Masjid Syuhada tersembunyi. Saya tidak akan menemukan sebuah
tugu kecil kalau tidak karena mengawasi keponakan yang berlarian.
Tugu itu tidak lebih dari 2 m dari marmer yang berwarna abu-abu. Pada
tiga perempat ketinggian tugu ini terdapat kotak hitam kecil yang berukirkan tulisan arti
penting Masjid Syuhada pada pertempuran Perang Dunia II.
![]() |
| Tugu peringatan di Masjid Syuhada |
“Dulu
Syuhada belum sebesar ini,” kata Nenek. “Bangunannya masih kecil.
Tempat ini dulu jadi tempat pertahanan tentara. Banyak pejuang yang
syahid di sekitar masjid ini,” lanjut Nenek. Sayang, dilihat dari
bidang ilmu sejarah, keterangan Nenek kurang lengkap. Nenek hanya
menggambarkan suasana pertempuran pada saat itu.
Liburan dengan
nenek dilanjutkan ke rumah beliau. Berada di antara toko makanan khas
dan cendera mata khas Yogyakarta, rumah nenek ramai oleh lalu lalang
kendaraan. Lalang, bahkan kemacetan itu memuncak pada tanggal-tanggal
libur karena bus-bus besar, bus wisata, berkeliaran di sepanjang
jalan sebelah barat di belakang Jalan Malioboro.
Tidak heran,
rumah beliau hanya berselang sekitar beberapa rumah dari Toko Bakpia
Pathok 75. Makanan ringan yang berisi kacang hijau ini sangat dikenal
dan disukai oleh para wisatawan. Walaupun bakpia 75 sudah dihargai
paling tinggi, toko ini masih selalu ramai.
Lama tak
mengunjungi rumah panjang itu, saya melihat pabrik tegel di sebelah
rumah sudah benar-benar tutup. Debu menggumpal di dinding pabrik itu.
Padahal, dahulu pabrik ini selalu ramai oleh pekerja yang membuat
tegel untuk memang memenuhi kebutuhan lantai bangunan sekitar Yogya.
Seiring dengan perkembangan model lantai, tegel tidak laku sehingga
kegiatan di pabrik ini berhenti.
Selain nilai
sejarah, penutupan itu memang disayangkan. Model-model tegel tersebut
unik. Beberapa di antara model itu masih dipasang di depan halaman
pabrik yang sekarang dijadikan lapangan parkir gratis.
Saya amati
beberapa toko baru muncul di sepanjang jalan ini. Beberapa toko
cendera mata, seperti kaos dan sandal tampak menghiasi beberapa toko
bakpia yang berjajar di sepanjang jalan. Toko kue modern itu turut
menyesaki jalanan tersebut. Kata nenek, toko kue atau roti itu
didirikan oleh salah satu finalis acara mencari bakat di salah satu
stasiun televisi. Bahkan, roti-roti itu dibuat dan disusun sendiri
oleh sang finalis.
Namun, nenek
tidak mengajak berbelanja di toko tersebut. Beliau justru mengajak
makan siang di salah satu warung bakso di daerah Sido Arum, nama
sebuah desa di daerah barat laut Yogya. Setelah menyusuri jalan desa
yang berkelok-kelok, beliau memandu sampai dapat menemukan warung
yang benar-benar berupa warung yang sederhana bangunan dan
perabotnya.
Syukurlah,
para keponakan tidak mempermasalahkan tempat. Mereka makan dengan
lahab begitu masing-masing semangkok bakso dan mie ayam terhidang di
depan mereka. Mereka tidak memedulikan bentuk bakso besar yang
dibelah sehingga menyerupai bunga teratai, cantik. Tidak sampai lima
belas menit, .... tandas.
(bersambung...)
-Retno Winarsi Handayani- #Terkabul2015



Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus