Selasa, 20 Januari 2015

Mistisisme 1001 Candi

Terlalu pagi bagi saya ketika Rein menghentikan kisah dalam mimpi saya. Dalam waktu singkat begitu saya sadar tengah berada di rumah orang, saya bergegas bangun dan melaksanakan shalat shubuh.
Sebenarnya kami bertiga tidak memiliki agenda pasti setelah kemarin Ustadzah Vera pulang meninggalkan kami. Hari ini kami kosong agenda dan tidak punya rencana untuk pergi ke mana. Yang pasti saya diminta pulang ke rumah sebelum sore karena malam ini di alun-alun Kota Magelang ada konser dakwah dagelannya Cak Nun. Entah tertarik atau tidak, saya lebih ingin berkelana ke Punthuk Sethumbu di Majak Singi, Menoreh.

Terlanjur masih ada di Sleman, tepatnya Kalasan, saya ingin menghabiskan waktu dulu di sini. Google Maps kembali dibuka, dengan kemampuan GPS, kami mencari alternatif wisata di sekitar. Ditemukan! Bangunan cagar budaya sejauh 5 kilometer di tenggara rumah Rein yang tidak lain adalah ... kompleks Candi Prambanan.

'Ah, gw dah pernah kesana bro!"
"Itu kan lu Rein, orang lokal sini. Lha, gw kan belum. Lu Ilyas?"
"Gw juga belum."
"Noh, 2-1 kan!"
"Oke, sekarang kita ke sana. Caranya gimana?"
"Gimana kalo lu antar kami nyampe Jln. Solo. Nanti kami naik TransJogja di KR II. Kita ketemuan di gerbang masuk. Lu tetep naik motor aja nyampe Prambanan. Toh polisinya kagak tahu kalo lu nggak punya SIM. Asal nggak ngelanggar aja," dasar (-_-)!
Saya dan Ilyas segera membeli tiket pass Rp. 4000 dan menunggu TransJogja jalur apa saja karena sudah pasti ke Prambanan. Sepuluh menit kemudian bus kuning-ijo itu mengangkut kami.

Sepanjang perjalanan, kami berdua hanya berdiam. Entah mungkin males, atau memang tidak ada topik pembicaraan. Lalu keheningan itu pecah seketika bus TJ ini tiba di bangjo Bogem, Sleman.
Dari kejauhan, saya melihat beberapa 'wanita' dengan pakaian super minim. Ada yang menggunakan beha saja, kacamata, lipstik menor, dan ada juga yang menggunakan rok 1/8 (apaan tuh?). Mereka bergoyang dan berusaha memikat para pengguna jalan.

Semula kami kira mereka itu para PSK. Setelah saya mengenakan kacamata, "Ya ampun! WARIA!"
Tawaan kami disambut dengan tatapan sinis pengguna TJ yang lain. Maklum dong, kami kan bukan orang sini, mana tahu begituan! Kami berganti diam, dan menatap sinis yang lain, cuma kami kalah jumlah.
Kami diam hingga tiba di halte Prambanan. Tanpa pikir panjang, kami langsung menuju sanggar di depan loket sambil mencari Rein, takutnya dia sudah lama menunggu. Tetapi keadaan justru berbalik karena ia belum tiba di Prambanan. Ya sudah, saya buka tablet dulu sambil mempertimbangkan penawaran yang terpampang di pintu loket.

Untuk bisa memasuki komplek Candi Prambanan, setiap pengunjung dewasa dipatok Rp. 30.000, dan anak-anak Rp. 10.000. Lebih untung lagi untuk kunjungan karyawisata yang minimal 20 orang. Apabila trip perjalanan ingin dilanjutkan satu tiket dengan trip ke Candi Ratu Boko di bukit seberang selatan sana, menjadi Rp. 45.000. Itu sudah termasuk angkutan PP Prambanan-Ratu Boko.
Karena masing-masing dari kami terbatas oleh waktu, dan tidak ingin film "Keramat 2" dibuat, akhirnya kami memilih tiket Prambanan saja.Tetapi menurut saya harga tiket masih cukup mahal dibandingkan dengan tiket masuk Borobudur (yang pada Januari 2014 lalu), Rp. 15.000.

Di dalam, objek pertama yang kami temui adalah plakat pengesahan komplek Candi Prambanan oleh Presiden Soekarno pada 1953 silam. Tanpa basa-basi, kami segera untuk mendekati candi utama di komplek percandian ini: Candi Roro Jonggrang.

Candi Roro Jonggrang dibangun sekitar tahun 850 M pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Hindu dan ditujukan untuk pemujaan terhadap trimurti, yakni tiga dewa dalam kepercayaan Hindu; Dewa Brahma, Dewa Wishnu, dan Dewa Siwa. Selain untuk pemujaan, pembangunan Candi Roro Jonggrang juga ditujukan untuk meyaingi wangsa Syailendra atas Candi Borobudur sehingga mengukuhkan almamater wangsa Sanjaya di tanah Jawa.

Pembangunan Candi Roro Jonggrang sendiri dilakukan dengan membuat sedotan Kali Opak yang berada di barat komplek ini. Tujuannya agar erosi yang menggerus bantaran kali tidak membahayakan keberadaan candi, sehingga aliran Kali Opak dibelokkan.

Pada masa kerajaan Mataram Hindu masih menetap di Jawa Tengah Candi Roro Jonggrang ini menjadi pusat peribadatan Hindu di tanah Jawi. Namun ketika Gn. Merapi meletus pada 930 dan membahayakan keberadaan kerajaan, Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur. Sejak saat itu, kondisi candi kian memperihatinkan.

Bertahun-tahun kemudian semenjak candi terkubur oleh material letusan, candi kembali ditemukan oleh warga sekitar. Kendati tidak tahu-menahu mengenai asal-usul candi, siapa pembuatnya, kapan, dan tujuan mengapa dibangun candi ini, maka penduduk lokal mengarang cerita fantasi mengenai Roro Jonggrang yang meminta dibangunkan 1001 candi dalam satu malam.

Pada abad ke-16, terjadi gempa dahsyat yang berdampak pada runtuhnya candi. Sejak saat itu, terjadilah penjarahan atas arca dan batu-batu asli candi hingga abad ke-19. Selain menjadi situs sejarah, Candi Roro Jonggrang dan Kali Opak menjadi batas wilayah antara Kesultanan Yogya dan Kasunanan Surakarta yang sebelumnya merupakan kerajaan Mataram Islam pada 1755.

Semenjak Nusantara berada dalam genggaman kolonialisme Belanda, praktik pemugaran terhadap komplek Candi Prambanan dilaksanakan, tepatnya pada 1930 oleh V.R. Van Romondt. Namun pemugaran hingga kini masih berlangsung untuk memulihkan candi pasca gempa Yogya 2006 lalu.

Tubuh Candi Roro Jonggrang terbagi dalam 3 bagian utama yang menggambarkan pelapisan (kastaisme) makhluk dunia, yakni (dari bawah); Bhurloka (manusia, jin, setan, binatang), Bhurwaloka (orang-orang suci, pendeta, bhiksu), Swarloka (para dewa). Selain Candi Roro Jonggrang, di komplek Candi Prambanan juga terdapat Candi Lumbung, Candi Bubrah, serta Candi Sewu yang sayang pada saat kami berkunjung, proses pemugaran maasih berlangsung.

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati komplek Candi Prambanan, kami berteduh di sebuah halte depan pintu masuk Candi Sewu. Nampaknya hanya Candi Roro Jonggrang saja yang ramai. Di candi yang satu ini bahkan hampir tidak ada kunjungan sama sekali.

Saya membuka tablet dan bingung, entah kenapa sensor layar sentuhnya galat. Bahkan menjadi mirror (sentuh atas, reaksi bawah/berlawanan). Saya pun ceritakan ke Rein dan Ilyas. Berdalih ada kekuatan mistis di sini, saya mana percaya hal begituan. Karena matahari hampir berada di atas kepala, kami segera keluar, makan siang di terminal, dan pulang ke rumah masing-masing.

***

Setibanya saya di rumah, entah kenapa semua kegalatan di tablet itu lenyap (loh?).

+JOHAN FJR

Senin, 19 Januari 2015

Berburu Candi Terselubung di Tanah Sleman (bag. 2)

Candi berikutnya yang kami kunjungi adalah Candi Kedulan. Jaraknya memang semakin jauh dari Selokan Mataram, semakin ke utara di desa Tirtomartani. Kini giliran Ilyas yang mengendarai. Ia ingin membuktikan pada saya kalau dirinya lebih lihai mengendarai dari saya. =p Iya deh, ngaku. Dia lebih lancar ganti gigi. =) Kekurangan saya mengendarai motor pada saat berbelok adalah kurang bisa mengurangi kecepatan, juga memiringkan motor agar lancar di tikungan. Selain itu, ganti gigi saat kecepatan tinggi, juga gagal menghindari kubangan. ^_^



Setelah menikmati santap siang-kesorean, baru kami mendatangi Candi Kedulan. Sama seperti dua candi sebelumnya, Candi Kedulan terkubur material letusan Merapi pada 1006. Candi ini terkubur antara 3-7 meter dengan 13 lapisan yang berbeda. Kemungkinan besar 13 lapisan ini disebabkan oleh periode letusan yang berbeda. Candi ini ditemukan di tengah persawahan oleh seorang penambang pasir pada 1993. Ketika kami berlima mendatangi lokasi candi ini, tengah dilakukan proses penyusunan ulang bangunan candi yang memiliki relief mulut bertaring.
Mengejar matahari terbenam, kami pun segera merapat ke Jln. Solo. Di sana terdapat dua candi yang berdekatan namun berseberangan dengan Jln. Solo. Kami segera mendatangi candi di sisi utara, Candi Sari.


Candi ini berada di dalam area permukiman warga. Walau begitu, sepertinya warga sadar akan vitalnya keberadaan situs ini, terbukti dengan tidak adanya bekas kerusakan di areal candi ini. Berbeda dengan ketiga candi sebelumnya, candi yang satu ini bercorak Buddha. Dibangun pada abad ke 8-9 Masehi oleh kerajaan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dan diperkirakan dulunya merupakan vihara (kuil Buddha) dimana para biksu tinggal serta melaksanakan upacara keagamaan.
Candi Sari ditemukan kembali pada abad pada awal abad ke-20 oleh seorang arkeolog Belanda, A. J. Bernett Kempers, tepatnya oada 1929-1930. Pada saat itu, situs ini dalam keadaan rusak berat. Namun dengan berpedoman pada prasasti yang ada, bentuk candi ini dibangun kembali.
Di dalam Candi Sari, terdapat 3 ruangan. Masing-masing ruangan dipantau oleh CCTV. Berdasarkan bentuk fisik candi, letak pintu, serta jendela, candi ini bertingkat hingga 2-3 lantai. Lantai bawah sebagai tempat belajar dan melaksanakan ritual keagamaan para biksu, dan lantai atas untuk menyimpan benda-benda keagamaan. Sayangnya, beberapa bagian candi ada yang telah berubah, seperti bingkai jendela yang semula batu, kini berganti semen. Kemungkinan kerusakan terjadi pada saat penemuan atau pemugaran.

***


Matahari semakin tenggelam oleh cakrawala. Sebelum masa shalat ashar berakhir, kami menyempatkan shalat dulu di Masjid An-Nurumi. "Itu lho, masjid yang mirip bangunan katedral di Moskow!" ujar Rein. Saya tentu tahu karena saya biasa lewat Jln. Solo, dan masjid dengan atap yang mencolok ini terlihat jelas dari pinggir jalan.
Seusai shalat, kami menyeberangi Jln. Solo dan segera masuk ke jalanan pedesaan. "Soalnya gawat kalau masuk lewat pintu utama candi," ujar Rein sambil menunjuk jalan masuk utama. "Ada kantor polisi di depannya." Saya tersenyum.

***


Walaupun sama-sama terletak dekat dengan Jln. Solo, Candi Kalasan lebih terlihat. Candi ini juga terlihat sewaktu naik Prameks tadi pagi. Candi ini bercorak Buddha, sama dengan Candisari. Merunut pada Prasasti Kalasan, Candi Kalasan dibangun bersamaan dengan Candisari, namun memiliki perbedaan fungsi yakni Candi Kalasan digunakan sebagai pemujaan Dewi Sita. Menurut seorang sejarawan Belanda pada tahun 1928, Van Rumond, Candi Kalasan tidak dibangun tunggal (sendiri), melainkan memiliki beberapa candi kecil penunjang dengan stupa di atasnya.
Candi yang menghadap ke arah timur ini memiliki pintu di semua sisi kecuali barat. Masing-masing pintu ini akan mengantarkan pengunjung ke tiga ruangan yang berbeda. Untuk memasuki ruangan tersebut, pengunjung harus menaiki tangga candi yang telah hancur. Hal paling menakjubkan adalah ruang utama yang memiliki patung Dewi Sita, dimana apabila dibayangkan, betapa hebatnya orang zaman kerajaan dahulu dalam menyusun bebatuan, begitu kompleks, dan indah.



Hari semakin sore, dan corak kuning-kemerahan di angkasa semakin mencolok. Birunya langit semakin memudar, jalanan Sleman kian ramai, saatnya kami kembali ke rumah Rein. Sayang kami harus berpisah dengan Ustadzah Vera yang sore ini juga harus pulang ke Magelang. Kami bertiga dan adik Rein, Rian, segera mandi dan makan malam serta tidur untuk mempersiapkan energi tuk esok hari.

© 2014 Johan FJR - foto2 oleh Ustadzah Vera #MakeItHappen2015

Minggu, 18 Januari 2015

Berburu Candi Terselubung di Tanah Sleman (bag. 1)

Masih pagi ketika saya bangun karena cahaya putih dari luar jendela, Jumat (9/1). Benar saja, saya bangun kesiangan. Ilyas pun masih terlelap dalam mimpinya, dan saya baru sadar, tivi dari tadi malam belum mati. Segera saya ke kamar mandi dan melaksanakan shalat shubuh di jam 6. Kami kembali menata barang bawaan kami, dan segera berangkat menemui Ustadzah Vera dan Kak Melita di depan hotel tempat mereka menginap. Setelah kami bertemu, lekas kami selesaikan perjalanan Surakarta (mereka) menuju Stasiun Solo Balapan.

Masih terlalu awal bagi kami untuk membeli tiket kereta lokal Prambanan Ekspress (Prameks). Kereta yang melayani rute Kutoarjo-Solo Balapan ini menerapkan tarif Rp. 6000/perjalanan Yogya-Surakarta PP. Masih ada waktu satu jam sebelum kereta berangkat, namun Kak Melita sudah siap di kabin kereta. Kak Melita memang mau pulang ke Jakarta dan tidak bisa ikut kami ke Yogya. Kak Melita pun segera on board sambil menanti kereta berangkat.

Bagi Ustadzah Vera, tidak lengkap jalan-jalan ke Surakarta kalau belum mencicipi kulinernya. Maka beliau mengajak kami ke sebuah warung makan di Jln. Hasanudin, Surakarta. Tidak lain tempat tersebut adalah WM. Selat Solo Vien.
Selat merupakan kuliner khas Surakarta yang terdiri dari wortel, timun, buncis, kentang goreng, selada, telur, kecap, serta daging yang disiram dengan kuah semur dan mayones. Terlihat dari komposisinya, kuliner ini merupakan kuliner serapan/adaptasi dari Salad dan menjadi menu santapan konglomerat dahulu.
Di warung makan yang buka dari pagi hingga siang ini, menu Selat tersedia dalam dua varian; Selat Daging Cacah (Rp. 8500), dan Selat Iga (Rp. 10000). Minuman yang tersedia untuk menunda dahaga ada jeruk dan teh, tersedia dingin dan panas.

Kembali lagi ke stasiun, kereta Prameks segera siap di jalur 3. Kami pun segera mencari tempat duduk sesuka kami, karena kereta lokal tidak mengatur tempat duduk. Mau berdiri juga boleh. =)
Segera kereta berangkat. Menurut jadwal, kami akan tiba di Stasiun Tugu jam 10.30 alias satu jam perjalanan. Berbeda dengan commuter line Jakarta, Prameks akan berhenti di beberapa stasiun saja, seperti Purwosari, Klaten, Maguwo, Lempuyangan, dan Tugu.
Rencana kami begitu tiba di Yogya adalah mengunjungi beberapa candi di sekitar Kalasan. Ya, candi-candi tersebut merupakan candi peninggalan Mataram Kuno yang tersebar di beberapa tempat, tak jauh dari rumah Rein. Maka, kami segera menaiki TransJogja jalur 3A dari halte Malioboro I dan turun di halte Jln. Solo K2. Untuk menuju ke rumah Rein, kami harus menaiki motor hingga Purwomartani.

***
Usai shalat Jumat, kami segera berangkat. Tadinya saya dan Ilyas merencanakan untuk bersepeda. Keinginan kami segera disangkal Rein. Terlalu beresiko kehabisan waktu dan capek, karena candi-candi tujuan kami tersebar dan jarak masing-masing candi cukup jauh. Mau tidak mau kami harus naik motor. Wah, Rein bisa ngeboncengin Ustadzah Vera dan adiknya, Rian. Kami (saya dan Ilyas), yang belum memiliki kelihaian dalam bermotor harus segera mempelajari cara mengemudi motor dengan baik. Ajaibnya, saya bisa menguasai motor Jupiter itu dalam 10 menit. =)
Kami segera berangkat, tentu dengan Rein sebagai pemandu jalan. Candi pertama, candi Sambisari. Motor yang saya kendarai sempat lompat gara-gara saya kurang seimbang dalam berganti gigi. Ilyas tersontak dan ngomel-omelin saya. =) Maklum, amatir. Siapa tahu nanti saya jadi pembalap sungguhan. =p Tapi impian itu langsung sirna begitu saya hampir menabrak Ustadzah Vera saat mau parkir. =3



Untuk memasuki Candi Sambisari, pengelola memang tidak mengenakan biaya masuk. Kita hanya diminta untuk mengisi kehadiran di pos penjagaan. Begitu masuk, Candi Sambisari terlihat jauh berbeda dengan candi-candi lainnya. Letaknya 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Candi bercorak Hindu yang dibangun oleh Rakai Garung dari kerajaan Mataram Hindu di abad ke-9 ini sebelumnya ditemukan oleh seorang petani desa setempat pada 1966, yang kemudian dipugar oleh Dinas Purbakala pada 1986. Kemungkinan candi ini tertimbun material letusan Gn. Merapi pada 1006.
Kompleks candi ini dikelilingi oleh pagar batu dan memiliki satu candi utama, serta 3 candi pengawal. Di dalam candi utama terdapat lingga-yoni yang melambangkan kesuburan.
Umumnya para pengunjung candi ini mengabadikan foto diri (#selfie) karena komplek Candi Sambisari terawat dengan apik, baik taman maupun percandiannya. Tak mau ketinggalan pergerakan matahari, seusai berfoto kami segera angkat kaki ke candi berikutnya, Candi Kadisoka.


Candi Kadisoka terletak sekitar 8 km di utara Candi Sambisari. Akses menuju candi ini cukup sulit karena terletak di antara lahan pertanian dan tambak warga dengan jalanan berbatu. Seharusnya candi ini dijaga oleh 2 orang petugas, namun tidak ada penjagaan sama sekali waktu kami datang. Sama seperti Candi Sambisari, candi ini berada 3 meter di bawah tanah. Terlihat dari fisik candi, sepertinya penggalian candi ini belum rampung.
Candi bercorak Hindu ini ditemukan pertama kali pada 2000 oleh seorang penambang pasir setempat. Setelah dilaporkan ke BPPP, penggalian dimulai pada Februari 2001. Pada sisi timur candi, ditemukan berbagai logam mulia dan peninggalan harta lainnya. Diperkirakan, candi ini sebelumnya tertimbun oleh lahar Gn. Merapi dari Kali Kuning yang berjarak 100 meter di timur candi.

© 2014 Johan FJR - foto2 oleh Ustadzah Vera #MakeItHappen2015

Kamis, 15 Januari 2015

Banjarnegara, Salak dan Rebana

Assalamualaikum wr wb

Huuufh, akhirnya saya bisa menulis kisah saya, setelah badai kuhadapi, lautan kudaki, dan gunung kuseberangi...

Sebentar, ada yang rasanya kurang tepat. Apa ya? *menengok paragraf di atas.
Ah sudahlah. Biar saja, ga dosa kok.

Baiklah, pada kesempatan yang berbahagia bagi Anda yang sedang berbahagia kali ini, saya ingin berbagi cerita mengenai desaku yang kucinta, pujaan hatiku.

Jreeeng... Jreeeeng...

Saya bertempat tinggal di kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Alhamdulillah lokasi desa saya cukup jauh dari lokasi bencana longsor yang menjadi berita nasional pada bulan Desember 2014 lalu.

Pada kesempatan pulang kampung kali ini sebenarnya saya berniat menjadi relawan membantu desa dan korban bencana tersebut. Namun sekarang lokasi tersebut ditutup untuk umum, hingga niat saya itu tidak kesampaian.

Nah, sekarang cerita tentang desa saya, Desa Kaliurip. Desa ini merupakan salah satu penghasil salak pondoh terbesar di Banjarnegara. Setiap melangkah keluar rumah, langsung terlihat hamparan pohon salak sejauh mata memandang. Kalau mau makan salak, tidak usah jauh-jauh. Di samping rumah sudah tersedia. Tapi yang diseduh #eh.

Hasil salak yang buanyaaak itu membuat perekonomian warga tergantung pada buah ini. Di Desa Kaliurip terdapat beberapa sentra pengepakan salak yang siap dikirim ke berbagai daerah di Jawa dan Sumatra. Industri ini juga menyerap banyak tenaga kerja, termasuk anak2 muda. Sehingga bukan hal yang ajaib banyak anak2 muda di sini yang sudah memiliki penghasilan sendiri. Sebagian bahkan mampu membeli sepeda motor dengan hasil cucuran keringat mereka, tentu saja yang sudah dikonversi menjadi uang.

Dampaknya, usaha yang menyerap tenaga kerja anak muda di desa saya ini, telah menyerap pula kawan-kawan bermain saya. Jadilah desa saya terasa sepi. Tapi memang desa ini sudah biasa sepi. Pagi warganya bekerja, malam hari beristirahat. Itulah agenda rutin di sini. Saya akhirnya jadi susah mencari waktu luang untuk berkumpul dengan teman lama.

Alhamdulillahirobbil'alamin, tak semua kawan saya sudah terserap sebagai penggiat industri perkebunan salak. Sebagian kawan tetap istiqomah mengikuti kodrat sebagai pelajar dan giat memakan bangku sekolah.

Ada satu momen istimewa dalam libur pulang kampung kali ini, yaitu saat saya diajak manggung. Bukan sebagai personil boyband, apalagi pelaku stand up comedy, melainkan sebagai anggota grup rebana. Begini-begini saya dulu adalah salah satu penggawa grup rebana TPQ (Taman Pendidikan Quran) setempat. Mumpung saya ada di desa, saya diajak kembali menggelar show dalam peringatan Maulid Nabi SAW. Pentas kali ini begitu menantang, lokasinya sangat ...wauw. Butuh waktu perjalanan satu setengah jam untuk mencapainya, dengan menembus hutan lebat gelap gulita tiada tara.

Jarak tempuh yang bisa dibilang cukup jauh ini menjadikan suasana perjalanan agak gimana... gitu. Apalagi ini perjalanan malam. Suhu begitu dingin. Saat kami melangkah, bukit batu di belakang desa kami begitu tinggi menjulang diterpa cahaya keperakan sang bulan.

Bagaimana kisah selanjutnya? Kita akan tahu juga nantinya, semoga segera, ya. Doakan saja. *berdoa khusyuk sambil mengisi ulang daya baterai ponsel.

-Kabul Hidayatulloh- #MakeItHappen2015.

Selasa, 13 Januari 2015

Ukiran-ukiran Baru

Brrruuummm ...

Motor tua ini dengan kencang melintasi aspal mulus berkelok di kaki Gunung Sumbing. Roda-roda dengan ruji berkarat ini terus berputar, semakin kencang ketika harus melintasi tanjakan. Sesekali kendaraan kawan bersorai, menandakan bahwa peradaban masih ada hingga di wilayah berselimut ini. Ia melintasi desa dengan aspal yang remuk, hingga pada akhirnya, seseorang tersenyum ketika tiba di lokasi tersebut.

"CANDI SELOGRIVO" Begitulah yang tertulis di gapura tersebut. Sebuah bagunan mungil terletak di sampingnya: tempat kita membeli tiket. Seusai membayar HTM sebesar Rp. 3000, tanpa pikir panjang saya bergegas masuk ke dalam area wisata candi. "Dik, arep mbarengi rak? Dhalane aduh lho! // Dik, mau ke atas bareng nggak? Jalannya jauh lho!" Tawaran menarik agar saya cepat tiba di tempat. Sayang saya menolaknya hanya demi alasan menikmati pemandangan. Seperti yang dijanjikan pada tiket masuk.

Saya mulai mendaki menuju candi dengan berjalan kaki. Sesembari memotreti keindahan alam pegunungan yang terbentang. Pandangan saya berputar 360° sambil mengaitkan apa yang saya lihat dengan gejala geologis yang saya tahu. Tak sadar sinyal 3G tablet tak tertangkap. Di sepanjang jalan, rimbunan pepohonan terlihat dengan jelas. Warna hijaunya ikut lenyap bersama hijaunya areal persawahan.

Ketika melangkah menyusuri jalanan setapak, saya berpapasan dengan ibu-ibu yang membawa hasil panen sayuran, bapak-bapak yang siap menyemai sawah, juga muda-mudi desa yang mengolah kebun. Pertanian di sini memang didominasi oleh persawahan, namun ada juga cabai, terong, kentang, juga singkong. Sesekali motor matik melintas yang dipaksakan untuk membawa gelondongan kayu, entah legal atau tidak.

Tak berapa lama kemudian, tibalah saya di bagian akhir pendakian. Trek ini ditandai dengan adanya gapura. Sekitar 50 meter ke depan, terdapat beberapa bangunan yang telah rusak. Dibiarkan begitu saja. Barulah saya tiba di Candi Selogrivo.

Memasuki kawasan candi, saya diminta untuk mengisi daftar hadir. Sama dengan di Yogya. Saat saya datang, kawasan candi sepi. Hanya ada tukang kebun candi, pasangan kekasih, dan dua pemudi SMA lokal. Tanpa banyak basa-basi, saya melihat dan memotret kondisi candi. Alhasil, saya kecewa.

Candi Selogrivo ini berada dalam pengelolaan Badan Pelestarian Cagar dan Budaya Jawa Tengah. Candi yang terletak di desa Kembangkuning ini terletak di wilayah perbukitan Gn. Sumbing dan menjadi salah satu objek wisata lokal di Kec. Windusari, Magelang. Dilihat dari bentuk bangunannya, seperti atap candi yang mirip Candi Borobudur, saya memasukkannyanke dalam candi Buddha. Tidak ada relief di dinding luarnya.

Satu hal yang sangat disayangkan adalah kondisi candi yang sudah SANGAT MEMPERIHATINKAN. Kunjungan saya kali ini memang berdasarkan hasil pencarian foto di internet yang diambil 2 tahun lalu. Sayangnya itu sangat kontras dengan yang kini ada di hadapan saya.

Dua buah sabuk kuning terikat di tubuh candi hingga 'melilit' candi tersebut. Bila diperhatikan lebih dekat, jawaban atas mengapa sabuk itu dipasang terjawab: belasan-mungkin-puluhan grafiti dari tangan-tangan bodoh tak bertanggungjawab terukir di sana. Bukan ukiran orang zaman dulu. Tak hanya itu, patung yang menempel di dinding candi pun rusak. Bagian tubuh dari arca tersebut ada yang hilang kepalanya, perutnya, bahkan kakiknya. Mirisnya, saya melihat papan peringatan dan para pengunjung sebagian besar tidak memperdulikan peringatan tersebut. Bahkan konon katanya candi ini biasa dijadikan lokasi pacaran.

Tak mau berlama ditelan rasa kecewa, saya buru-buru kembali turun. Toh saya dikejar oleh awan kelabu di atas sana. Melintasi kebun cabai yang tengah mahal, saya tertarik untuk menjepretnya. Tau-taunya ...

"Wei. Adja dijipuki wei!" Kaget diteriakin orang lokal, saya berlagak interlokal. "Pak, gambar saya bagus nih?" "Kanda apa kowe kuwi?" "Bapak mau saya foto?" "Cah edan!"

Lolos deh! =)

"Sudah saatnya kita sebagai bangsa berbudaya menghormati peninggalan nenek moyang kita. Dan tidak ada pihak manapun yang berhak mengusiknya."

© 2014 Johan FJR

Senin, 05 Januari 2015

Hari yang Cerah!

Assalamu'alaikum... Selamat malam...!
Apa kabar kamu di tempat tinggalmu minggu pertama Januari 2015 ini. Masih setia terbasahkan oleh hujan kah? Wajar saja memang, saat ini kita kan ada di musim penghujan. Tapi setelah berhari-hari dirundung gelap dan curah hujan, hari ini ada yang istimewa. Iya, hari ini di tempat tinggalku, Jakarta, cerah! Alhamdulillah :)

Walau prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG menyebutkan hujan berpeluang turun di Jabodetabek hari ini, namun hingga tengah hari tadi cuaca cerah ceria. Ada awan memang, tapi tidak mengurangi silaunya pancaran matahari.

Kalau dilihat dari sisi ini, Kanal Banjir Timur cukup keren dan romantis, ya? Alhamdulillah sedang tidak ada gerumbulan sampah yang mengapung dan membuat suasana bak Sungai Seine ini buyar :-)

Tuh, lihat di atas, foto dari Jembatan RS Duren Sawit yang melintang di atas Kanal Banjir Timur, Jakarta. Terlihat cerahnya, ya? Sesiang ini aku berjalan di jembatan ini menikmati cerahnya hari (sambil menenteng kantong belanjaan, hehe...). 

Sekitar lima belas meter di depanku ada tiga anak berseragam SMP, berjalan menuju sekolah. Sebagai informasi, di daerah tempat tinggalku masih ada beberapa sekolah yang menyelenggarakan KBM dari siang hingga sore hari. Ada yang karena memang kekurangan lokal kelas, atau ada yang gedung sekolahnya dalam perbaikan sehingga untuk sementara menumpang di sekolah lain.

Tiga siswa SMP berjalan menuju sekolah. Mana? Tuuh... di tengah bidang foto, di ujung jembatan. Maaf objek fotonya terlalu jauh, sebab tengah hari yang panas ini membuat mereka tidak mau menungguku mendekat agar dapat mengambil foto mereka dengan lebih elegan :)

Berbeda sekali dengan para siswa SMART EI yang masih di pekan pertama dari tiga pekan masa libur raya tahunan, sebagian besar siswa sekolah di Jakarta sudah mulai kembali berlaga di sekolah. Suka atau tidak suka; hujan atau panas; puas liburan ataukah belum; semester kedua sudah secara resmi dimulai. 

Aku terus melangkah (menenteng kantong belanjaan tadi) menuju rumah. Di tempat lain aku kembali melihat sekelompok lain siswa SMP yang tatanan rambutnya masih klimis, pakaian putih-birunya pun belum kusut. Artinya juga mereka ini baru berangkat dari rumah menuju sekolah. Saat itu mereka sedang... ah, mari kita cek langsung di gambar berikut.

Apakah objek foto ini adalah induk ayam dan anaknya?
Eh, maaf. Ternyata butuh kaca pembesar untuk mencari tahu gerangan manakah objek foto yang kumaksudkan. Ini pelajaran buatku sih. 
Pertama: jangan sok jago mengambil gambar di luar ruang saat matahari sedang beredar di atas kepala. Silau, maaan... dan bikin jendela bidik kamu terlihat gelap. Alhasil, seperti pada foto di atas, induk ayam dan anaknya yang tadi tidak kuperhatikan, jadi lumayan eksis bersama sepasang kotak sampah. 
Kedua, kalau mau jadi fotografer profesional, kamu harus mau menggerakkan kakimu lebih aktif. Jangan takut mendekat kepada objek foto agar mereka bisa masuk sebagai fokus dalam fotomu. Kalau tidak, fotomu dikira ingin memamerkan penutup saluran drainase di kawasan Pondok Bambu.
Ketiga, kalau tanganmu sedang repot bawa kantong belanjaan, tidak usah repot pengin foto anak sekolah yang lagi nongrong siang-siang deh. Pakai kamera hape segala lagi. Sebaiknya bagikan isi kantong tersebut pada mereka, setelahnya niscaya mereka akan bersedia difoto dengan gaya sampul majalah Sport Illustrated (maksudnya???).

Ah ya, mari balik ke hari yang cerah bersama teman-teman SMP kita yang sedang nongkrong itu. Lagi-lagi aku bersyukur tidak ada siswa SMART EI yang punya kesempatan nongkrong dulu di pekarangan perak-petak kontrakan belakang sekolah sebelum harus hadir di sekolah. Laah, sekolah dan asrama SMART EI tidak diselingi oleh kontrakan apa pun, kok. Jadi niat teguh siswa SMART untuk menuntut ilmu setiap hari sepanjang hayat bisa tetap terjaga. Baik di hari hujan maupun cerah.

Dan InsyaAllah bertahan selamanya. Amiin.

-vera- #makeithappen2015

Kamis, 01 Januari 2015

#Terkabul2015: Pulang Kampung

"Kamu punya rencana apa saat pulang kampung nanti?"

Pertanyaan saya kepada seorang siswa kelas 4 SMART Ekselensia Indonesia pagi minggu terakhir tahun 2014 lalu, mendapat jawaban yang tak terduga. Sebelumnya saya pernah mendengar ia dan beberapa kawannya punya rencana untuk menjelajah beberapa lokasi petualangan dengan gaya backpacker di provinsi Jawa Tengah dan sekitarnya.

Namun ternyata siswa ini menjawab, ingin mendaftarkan diri menjadi relawan untuk membantu korban bencana alam, yang belum lama ini terjadi di daerah asalnya. Waah... saya sempat tercenung sejenak, sebelum berucap, "Hebat. Semoga nanti liburmu bermanfaat bagi banyak orang ya."

"InsyaAllah, Ustadzah. Terimakasih," balasnya.

Selintas sebuah ide menyala di benak saya. Kebetulan juga sih anak ini anggota ekskul jurnalistik. "Nah, bagaimana kalau kamu membuat catatan pengalaman kamu saat libur besok?" saya susul permintaan ini.

"Nanti dikirim ke sekolah lagi, ustadzah? Tulis surat seperti dua tahun lalu?" ia bertanya balik, mengacu pada kegiatan yang digagas ustadzah Retno Handayani, guru bahasa Indonesia sekolah kami pada musim pulang kampung dua tahun lalu.

"Bagaimana kalau kali ini tidak ditulis tangan? Kirim lewat surel? Nanti kita buat blog agar bisa langsung diakses semua orang? Biar bisa dibaca teman-teman dan mereka juga menulis kisah liburan mereka?" Bertubi-tubi ide-ide ini saya keluarkan satu persatu sampai siswa ini tak berkutik di lapangan apel itu ^_^ Karena memang tidak ada pilihan lain, siswa ini pun mengangguk-angguk saja :)

Nah, saya anggap sudah ada kesepakatan proyek liburan dalam pulang kampung tahun 2015 ini. Kami pun sepakat membuat nama proyek ini #Terkabul2015. Seorang siswa lain kami libatkan agar bersedia membuat blog sebagai sarana menampung curhat kegiatan pulang kampung kami. Sebagai peramai kegiatan, saya berkeliling meminta alamat surel dan akun twitter siswa-siswa lain yang selama ini punya potensi sebagai tukang curhat, hehe... Maksudnya tentu saja mengajak mereka ikut bergabung menyumbang tulisan bilamana blog ini sudah jadi.




Jadwal pulang kampung siswa SMART sudah dimulai dini hari kemarin, Kamis (31/12). Sebagian besar siswa saat ini sudah bertemu keluarga masing-masing. Perjalanan yang unik dan berbeda pun dialami tiap siswa, seperti Arman dan Yanwari yang kali ini pulang naik angkot tanpa dijemput orang tua. Blog ini pun sudah jadi. Terimakasih buat +Johan FJR yang memberi tema berwarna peach untuk blog yang ceria ini. Semoga blog ini bisa mengemban peran mulianya ya...